Tampilkan postingan dengan label BookAHolic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BookAHolic. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

Televisi


Penulis: Raymond Williams
Judul Buku: TELEVISI
Penerbit: Resist Book
Tahun penerbitan: 2009
Jumlah halaman: 218

Buku ini membuka pemikiran kita tentang Televisi yang telah mengubah dunia kita tentunya. Kalian semua pasti tidak asing lagi dengan media penyiaran yang satu ini. Orang-orang terkadang menganggap televisi sebagai kotak yang penuh dengan hiburan semata. Mereka terjebak dengan program-program penyiaran tersebut. Program-program yang disajikan sebenarnya tak lepas dari kepentingan-kepentingan beberapa pihak. Politik dan pemilik modal menggunakan televisi sebagai kontrol sosial. Kemampuan televisi untuk menyebarkan informasi kedua tercepat setelah internet dan itulah alasan mereka menyisipkan kepentingannya.

Buku ini memiliki beberapa Bab yang tentunya menarik untuk di baca, yaitu:
  • Teknologi televisi dan masyarakat
  • Lembaga-lembaga penyiaran televisi
  • Bentuk-bentuk tayangan televisi
  • Pemrograman acara televisi: distribusi dan alur rangkaian acara
  • Dampak-dampak dari kehadiran televisi
  • Teknologi alternatif, pemanfaatan alternatif
Buku ini menurut saya sangat bagus karena mampu membuka tujuan-tujuan yang disisipkan dari sebuah teknologi. Media sosial yang selama ini dimanfaatkan sebagai sumber informasi pun mampu mengalami pembiasan atau dibiaskan oleh beberapa kelompok. Acara debat kandidat menjelang pemilihan kepala pemerintahan yang ditayangkan di televisi mampu di design sedemikian untuk membentuk mindset kita tentang calon pemimpin yang ideal. Proses komunikasi 1 arah menjadi kelebihan dari program televisi tersebut. Kurangnya interaksi dari masyarakat untuk menilai, memberi komentar atau pertanyaan kepada pemimpinnya dimanfaatkan untuk menciptakan debat yang tersistematis oleh si pemilik media.

Program berita yang disajikan di televisi pun tak jauh beda. Berita-berita yang tak biasa, bertemakan kekerasan menjadi bahan yang tak pernah lepas dari pemberitaan saat ini. Keresahan pun tertanam di kepala sang penikmat televisi. Peran edukasi yang seharusnya hadir ditelevisi pada setiap program-programnya tak terlihat disini. Terlebih pada berita-berita investigasi yang kini semakin banyak hadir di televisi swasta kita saat ini. 

Dibuku lain yang ditebitkan oleh resist book yang berjudul Demokrasi Tidak Untuk Rakyat sempat disinggung tentang peran media dalam menciptakan iklim demokrasi. Sebagaimana yang dikatakan Williams, teknologi itu adalah "alat-alat kontemporer untuk melakukan revolusi panjang menuju terciptanya demokrasi yang terdiidik dan partisipatoris", namu teknologi juga bisa menjadi alat bagi apa yang dia sebut sebagai aksi kontra-revolusi dimana didalamnyya kekuatan-kekuatan kapital merasuki setiap butir berharga dari kehidupan kita sehari-hari, kini itulah yang terjadi media kontra-revolusi.

Dihalam terakhir bukunya Williams meninggalkan prasayarat bagi suatu aksi di masanya, maupun di masa kini, "Informasi, analisis, pendidikan, dan diskusi". Semoga menjadi bekal untuk sebuah perbaikan.

Selasa, 03 April 2012

Dunia Tanpa Sekolah


Penulis: M. Izza Ahsin
Judul Buku: Dunia Tanpa Sekolah
Penerbit: Mizan
Tahun penerbitan: 2007
Jumlah halaman: 248


Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seorang teman yang telah meminjamkan buku barunya ini dan mengizinkan saya untuk mencicipinya terlebih dahulu. Terima kasih !!!

Dunia tanpa sekolah adalah sebuah buku yang edukatif. Bercerita tentang seorang anak bernama Izza yang tergolong pintar namun muak atas sekolah formal. Menurutnya sekolah formal hanyalah tempat yang memenjarakan kreatifitas dan imajinasi seorang anak. Kebebasan dalam proses belajar seorang anak tidak terexplor dengan baik yang dikarenakan sifat individu guru. Keheningan dalam ruang kelas, ketegangan oleh guru-guru yang mencitrakan killer (sok tegas) dan beberapa kebiasaan sekolahnya ini lah yang membuat dia beranggapan bahwa sekolah memenjarakan kreatifitas dan imajinasinya dalam belajar. 

Buku yang bercerita tentang seorang anak yang harus melanjutkan sekolah dibawah tekanan kedua orang tuanya. Orang tuanya beranggapa bahwa kesuksesan seseorang dapat dinilai dari seberapa tinggi seorang itu bersekolah, dan mindset seperti ini lah yang Izza tidak suka. Slogan wajib belajar 9 tahun-pun dibantahnya, Izza mau belajar seumur hidup, tidak sembilan tahun saja kemudian dilupakan.

Jangka papan tulis seharusnya tak digunakan untuk memukul anak-anak yang nakal, mencaci atau memaki seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang terdidik sekelas guru, dan berbagai cara lain yang berkedok untuk memberikan citra tegas atau jerah kepada murid yang kurang bisa diatur. Beberapa hal yang dia lihat inilah yang membuat dirinya tak ingin sekolah lagi dan lebih fokus pada hobi nya saja yaitu menulis. Banyak tulisan telah Izza lahirkan namun tak ada yang mengerti tentang bakatnya ini. Baginya “Siapapun bisa jadi penulis. Menulis tidak perlu bakat. Atau lebih tepatnya, bakat dapat diciptakan sesuai situasi dan kondisi"

Liburan adalah surga baginya karena bisa menghabiskan waktu liburnya ke Gramedia dengan keluarganya dari luar kota. Menurutnya Toko buku itu seperti restorant, dan dia ingin menghabiskan waktunya memakan satu demi satu buku disini. Sebuah pemikiran yang jarang atau bahkan tidak pernah saya dengarkan dari mulut anak muda zaman sekarang.

Buku ini menarik dibaca untuk mereka yang percaya pada sumber ilmu hanya pada sekolah saja. Semoga mereka mereka semua tersadar tentang konsep pendidikan yang ada selama ini kurang benar. Buku ini menarik dibaca juga untuk mereka calon penulis atau setidaknya beranggapa bahwa bakat itu sudah ditentukan sebelum kita terlahir. Izza membuktikan bahwa potensi bakat kita pada awalnya sama namun lingkunganlah yang membentuknya.