Tampilkan postingan dengan label MovieHolic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MovieHolic. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Oktober 2012

Yes Man


Film : Yes Man
Sutradara: Peyton Reed
Produksi : Warner Bros.
Tahun : 2008
Jenis: Komedi, Romantis
Penulis: Nicholas Stoller dan Jarrad Paul & Andrew Mogel,
Berdasarkan buku oleh Danny Wallace
Pemain: Jim Carrey, Zooey Deschanel, Bradley Cooper, Terrence Stamp

Siapa yang tidak mengenal Jim Carrey? Menurut saya dia lah maestro film komedi khas amerika dengan segala lekuk tubuh dan mimik mukanya. Kali ini dia bermain di Film Yes Man. Film yang sangat menghibur dan menyinggung orang-orang yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang monoton.

Jim Carrey di film ini berperan sebagai Carl Allen, seorang pegawai bank yang diletakkan dibagian pemberi pinjaman nasabah di Amerika. Sehari-harinya dia menjalankan pekerjaannya tanpa henti seperti robot dan selalu mengatakan “tidak” kepada siapapun sehingga dia terasingkan oleh teman-temannya.  Kejenuhan mulai menggrogoti kepalanya dan sekujur tubuhnya.  

Hingga suatu hari dia mengikuti sebuah seminar motivasi yang disarankan oleh temannya. Seminar motivasi “Yes Man, yes is the new no” yang didalangi oleh Terrence Bundley (Terrence Stamp) berkonsep tentang berkata “ya” dalam setiap kesempatan.  Jawaban “tidak” merupakan contoh bahwa kau menolak kehidupan oleh karena itu kau tak hidup, seperti itulah bentuk motivasi yang diberikan oleh Terrence si motivator. Sejak saat itulah  hidup Carl berubah, melenceng dari rutinitas, dan bertemu wanita baru, Allison (Zooey Deschanel).

Beberapa sentuhan manis dari film ini adalah hubungan Carl dan Allison itu sendiri. Ada sesuatu yang spesial antara Carrey dan Deschanel. Disamping, Deschanel tampil baik di sini dan tokoh Allison adalah tokoh yang menarik sebagai love interest bagi Carl, karena Allison adalah karakter yang easy going, seperti tidak kenal rasa takut, tomboy, mudah bergaul, bersikap masa bodoh, kepribadian yang bertolak belakang dengan Carl. Tapi justru karena perbedaan itulah mereka tampak serasi. Begitu cocok di layar sampai kita pun bisa merestui hubungan mereka sampai rela melupakan hal konyol dan berlebihan yang diumbar film ini. Liburan spontan ke Nebraska adalah bagian paling indah, berwarna dan menarik di sepanjang film

Beberapa pesan yang bisa diambil dari film ini tentunya tidak jauh dari kebiasaannya mengatakan “ya” pada setiap kesempatan. Mengatakan “ya” disini juga ternyata dapat memberikan warna baru dalam kehidupan dari Carl. Mulai dari pertemuan dengan Allison, belajar menjadi pilot, belajar bahasa jepang, belajar main gitar dan lain sebagainya. Semua yang dia lakukan ternyata memberikan dampak positif pada awalnya. Ditengah cerita hal-hal yang dia lakukan berkaitan dengan kehidupannya dan membantu orang-orang sekitarnya.

Kelemahan dari Carl itu sendiri, dia tidak dapat memilih kondisi saat untuk dia mengatakan “ya” dan “tidak”. Sehingga terkadang ada hal-hal yang dia tidak sukai namu tetap dia lakukan. Kata “ya” sendiri itu sebena_nya berfungsi untuk mengawali langkahmu selanjutnya katakan “ya” karena kau tahu dalam hatimu kau ingin mengatakan “ya”.

Mengatakan “ya” seakan memberikan peluang dunia mengenali kita dan kita mengenali dunia. Banyak manfaat yang bisa didapat dari mengenali dunia tentunya sebuah pelajaran untuk menghadapi lingkungan di sisi lainnya. Siapa yang tau kalo menolong seorang tuna wisma malah mempertemukan Carl dengan si Allison? Tidak ada yang tau. Maka, mari mengenal dunia dan mempelajari segala hal namun, tetap mengikuti kata hati untuk melanjutkannya.


Trailer Yes Man

Selasa, 19 Juni 2012

Freedom Writers


Film : Freedom Writers
Sutradara: Richard LaGravenese.
Produksi: Paramount Pictures.
Tahun: 2007.
Penulis Naskah: Richard LaGravenese.
Pemain: Hilary Swank, Scott Glenn, Imelda Staunton, Patrick Dempsey, dan masih banyak lagi.


Kali ini saya akan bercerita tentang Film Freedom Writers yang diangkat dari kisah nyata. Film yang dapat dinikmati sejak tahun 2007 berkisah tentang sebuah kelas yang berada di sebuah lingkungan sekolah di Long Beach, California, yang sangat rasisme. Kelompok ras sangat jelas terlihat disekolah ini misalnya, ras kulit putih, kulit hitam, ras Kamboja dan ras Latin. Kelompok ras yang terjadi didalam sekolah tersebut akibat dari perlakuan lingkungan diluar sekolah dan membentuknya juga didalam sekolah. Kelompok ras tersebut perlahan berubah menjadi genk yang saling memperebutkan wilayah satu sama lain untuk mendapatkan kebanggan dan kehormatan bagi rasnya tersebut. Seperti itulah gambaran lingkungan yang terjadi sebelum seorang guru Erin Gruwell (diperankan oleh Hillary Swank) mencoba merubah mindset setiap muridnya tentang ras.

Awalnya Erin adalah seorang guru yang belum mempunyai pengalaman mengajar. Dikelas Erin juga sering tak dihargai ketika mengajar. Hingga pada suatu ketika dia sadar bahwa telah terjadi kesalahan sudut pandang yang diterima oleh murid-muridnya dari lingkungannya. Erin menganggap bahwa kesalahan mereka pada kebencian mereka terhadap ras lain dan mengagungkan ras nya sendiri. Cara awal yang dilakukan oleh  Erin untuk menumbuhkan minat belajar dan memecahkan kesalahan berpikir muridnya adalah dengan mengenalkan mereka Holocaust. Holocaust merupakan pembantaian sekitar enam juta orang Yahudi yang dilakukan secara sistematis, birokratis dan disponsori oleh rezim Nazi. Holocaust sangat dekat dengan kondisi lingkungan tersebut karena sudut pandang masyarakat tentang tingkatan ras sedang sama-sama terjadi, itulah alasan dari  Erin  untuk mengenalkan Holocaust.

Pada dasarnya manusia akan tumbuh semangat belajar dan ingin tahunya jika hal tersebut sangat dekat dengan dirinya tersebut, Holocaust misalnya. Kondisi dimasa zaman Holocaust dianggap pula sama kondisinya dengan yang dirasakan oleh murid-murid tersebut. 

Cara selanjutnya adalah dengan memberikannya jurnal yang dibuat untuk menuliskan apa yang mereka inginkan, rasakan, dan alami. Setelah membaca beberapa jurnal mereka,  Erin menyimpulkan bahwa kekerasan geng antar ras telah mereka dapatkan sejak kecil dan terbawa hingga kini. Bagi  mereka kehormatan ras mereka adalah segalanya, inilah yang salah dan inila yang harus dirubah. Dari sini lah mereka diajak secara tidak langsung untuk menjadi penulis oleh  Erin . Kemampuan menulis mereka ditumbuhkan pula dengan diberikan buku bacaan yang tidak jauh dari kehidupan mereka, misalnya Durango Street dan  The Diary of a Young Girl. Durango Street adalah buku tentang anak-anak yang memasuki kehidupan genkster karena tuntutan lingkungan sedangkan The Diary of a Young Girl merupakan buku yang menceritakan tentang kisah perempuan korban rezim Nazi di zaman Holocaust.

Buku Durango Street     
Buku The Diary of Young Girl
Menjadi penulis tanpa pernah membaca buku tentu adalah kemustahilan, inilah yang saya dapatkan dari film ini. Kemampuan menulis di jurnal kian berkembang karena pola berpikirnya terbuka oleh bacaannya. Mereka melihat kondisi diluar sana dari buku tersebut. Kondisi dimana kelas ras unggul melakukan intimidasi psikologi kelas ras bawah dan ternyata masih ada perjuangan kesamaan hak untuk terbebas dari kelas-kelas ras. Referensi tulisan mereka juga berasal juga dari buku bacaan tersebut dan tidak hanya bersumber dari opini sempit mereka. Dari sinilah mereka mencoba merubah juga kelas-kelas ras yang ada dikelas mereka karena ternyata mempunyai hak atas pendidikan, keamanan, dan lainnya yang sama sebagai manusia. Dari tulisan ini lah mereka menjadi penulis kebebasan nntinya.
Didalam film ini juga menunjukkan bahwa pendidikan itu janganlah bersikap monoton atau kaku. Didalam kelas Erin sering menerapkan metode pengajaran yang aktif kepada muridnya. Beberapa interaksi yang dilakukan bisa melalui games, musik, film dan yang lain, tapi tetap tidak terlepas dari konsep pembelajaran. Hal itulah yang membuat murid-murid lebih mempunyai semangat belajar, tidak seperti kondisi realita yang ada, ruangan kelas tidak ada bedanya seperti mimbar bagi penceramahnya. Erin juga sering melakukan kunjungan ke museum dan melakukan diskusi kepada korban Holocaust meskipun tak ada program semacam ini di kurikulum sekolahnya.

Film bergenre drama ini merupakan rekomendasi terbaik kepada orang-orang yang senang mengabdikan dirinya kepada masyarakat sebagai pendidik. Orang yang mempunyai tujuan mulia dengan mengubah orang-orang yang dianggap tak tahu apa-apa menjadi orang yang lebih berguna tanpa memikirkan jarak pengetahuan yang dimiliki antara pendidik dan murid.
Trailer FreedomWriters

Minggu, 15 April 2012

City of God


Poster film City of God
Judul Film : City Of God


Judul Asli : Cidade de Deus


Pemain : Alexandre Rodriguez, Leandro Fermino, Phellipe Haagensen


Sutradara : Fernando Merelles


Penulis Naskah : Braulio Mantovani (screenplay), Paulo Lins (Novel)


Produksi : 02 Film


Oke... Malam ini saya telah melahap lagi sebuah film yang berjudul City of God. Kota di Brazil yang didalamnya penuh dengan senjata, obat terlarang dan kekerasan. Remaja dan anak-anak sekalipun telah menyentuh ketiga unsur ini. Mungkin bagi setiap kota besar pada umumnya ada ketiga unsur ini.


Film ini diangkat dari kisah nyata Rocket dalam film ini diperan oleh Alexandre Rodriguez. Rocket seorang fotografer muda adik dari Goose salah seorang dari Trio Mortes Gengster kecil di kota kecil tersebut pada tahun 60-an. Bersama dengan 2 temannya yang lain, Hairy dan Snatcher serta ditemani oleh Kid  (adik dari hairy) dan Benny mereka melakukan perampokan. Hingga akhirnya Trio Mortes berhenti sejak terjadinya perampokan yang dilakukan oleh mereka, namun sebuah pembunuhan mampu dilakukan oleh Kid sendiri sehingga membuat Trio Mortez menjadi buronan.


Disini saya melihat karakter anak-anak seperti Kid mampu membunuh dengan mudahnya sungguh tidak mengherankan. Dia dibesarkan dilingkungan yang sudah terbiasa melihat senjata dan kekerasan. Karakter pada dirinya pun terbangun dari yang biasa dia lihat. Seorang anak itu seperti cermin yang mengikuti perbuatan orang dewasa disekitarnya, jika dia besar dilingkungan terpelajar dia akan menjadi sosok terpelajar pula, namun jika dia besar dilingkungan yang terbiasa dengan kekerasan dia akan menjadi sosok yang kasar pula. Difilm ini banyak karakter yang seperti Kid, kurang pengawasan oleh orang tua (keluarga) nya sehingga tidak mampu mengontrol perkembangan si anak. Pendidikan awal seorang anak sebenarnya diawali oleh keluarga, lingkungan kemudian sekolah. Sekolah hanya memiliki waktu yang sedikit untuk mendidik perkembangan anak. Keluarga adalah penyaring, penilai benar atau salah yang kita tangkap dari lingkungan kita, Pada hakikatnya keluarga memiliki nilai-nilai yang di anggap benar dalam lingkup keluarga itu sendiri. Jadi, jika kita sendiri tak pernah meluangkan waktu pada anak kita, jangan heran jika anak tersebut berubah sesuai pada lingkungan mereka hidup sehari-harinya.


Berbeda dengan Kid, Rocket adalah sosok yang sangat tidak menyukai kekerasan, dia lebih memilih  untuk tidak mengikuti semua yang dilihat di lingkungannya, Senjata, obat terlarang dan kekerasan. Bahkan kakaknya sendiri pun tak ingin di ikuti. Dia juga lebih memilih kamera dari pada memiliki senjata.


10 tahun kemudian sosok Kid yang dulunya kecil telah tumbuh dewasa dan telah berganti nama menjadi (Leandro Fermino) Ze. Cita-citanya dulu telah tercapai menjadi seorang gangster dikotanya bersama teman kecilnya dulu, (Phellipe Haagensen) Benny. Berdua mereka menjadi penjual obat terlarang terbaik di kotanya, dengan bantuan polisi tentunya sebagai sosok pelindung dari bisnisnya ini. 


Disini saya melihat, jika kita ingin terlindung dari hukum kita harus memiliki si penghukum itu. Ze dan Benny dapat terlindung dari hukum dikotanya karena dia memiliki sosok penghukum tersebut di tangannya. Ibarat permainan anak-anak monopoly di Indonesia, jika tak ingin masuk penjara kita harus memiliki kartu bebas penjara dan itu diterapkan oleh mereka dan para pegiat kejahatan di kota-kota lainnya.


Di film ini sangat menggambarkan pula keadaan seorang yang kecanduan obat terlarang berada ditangan penjual obat terlarang itu. awalnya hanya mencoba pemberian teman, kemudian menggunakan uang pribadinya, jika uang pribadinya telah habis mulai menjual barang-barang pribadinya dan seisi rumah. Perlahan namun pasti semakin kau kecanduan, semakin kau memperkaya si penjual obat tersebut.

Di film ini yang dapat dipelajari juga tentang peraturan. Pada suatu bagian setelah kematian Benny kota menjadi terasa panas bagi dua kubu penjual, Ze dan Redhead. Redhead mempunyai seorang anggota baru yang dendam kepada Kid karena telah membunuh adiknya dan memperkosa pacarnya, Ned nama anggota baru itu. Dia tidak ingin menjadi perampok dan membunuh seperti kelompok Redhead. Suatu ketika dia melakukan perampokan namun peraturannya tak ingin melakukan pembunuhan. Pada perampokan kedua dia diselamatkan oleh Redhead yang membunuh karna ingin menyelamatkan Ned yang ingin ditembak, yang berarti ada pengecualian dalam peraturan. Perampokan ketiga pengecualian telah menjadi peraturan, boleh membunuh orang yang mengancam. kemudian saya teringat salah satu definisi kebenaran, kebenaran adalah kesalahan yang berulang. Kita melakukan kesalahan, terbiasa, kemudian membenarkan kebiasaan yang salah tersebut.

Diakhir film ini peran Rocket semakin diperjelas. Rocket yang sering mengantarkan koran di sebuah media cetak dikota itu tanpa sengaja hasil fotonya yang berisi foto-foto kelompok Ze dimuat menjadi Headine. Sejak saat itu dia diangkat menjadi fotografer dan diutus meliput perkembangan kota itu. Hingga akhirnya foto terbaiknya adalah gambar kematian Ze dan aksi penyuapan yang dilakukan kelompok Ze kepada polisi. Sekali lagi media menjadi bahasa kebenaran,  bukan karena mengedepankan komersil dari berita tersebut, tapi Rocket menjadikan kamera sebagai bahasa kebenaran.

Film yang menggambarkan realita sosial masyarakat di kota yang memiliki penegakan hukum yang lemah terhadap aksi suap-menyuap dan membuat sebuah kesalahan menjadi mengakar kepada penerus masa depannya kelak. Media cetak disini sebagai media perantara yang membahasakan  kebenaran agar terjadinya sebuah perubahan. Tanpa adanya media mungkin aksi suap-menyuap dibagian penegak hukum sampai saat ini takkan terungkap. Media seharusnya seperti ini tidak berpihak kepada golongan tertentu.

Trailer film City of God

Rabu, 11 April 2012

5 Days of War

Cover  5 Days of War
Judul Film: 5 Days of War

Pemain: Rupert Friend, Richard Coyle, Andy Garcia,  Emmanuelle Chriqui, , Johnathon Schaech, 

Sutradara: Renny Harlin

Penulis Naskah: John Logan, Marshal Herskovitz

Produksi: Anchor Bay Films

Film ini bercerita tentang 2 orang wartawan perang Thomas Anderz (Rupert Friend) dan Sebastian (Richard Coyle ) sebagai kameraman yang merekam setiap kejadian dilokasi. Di film yang diangkat dari kisah nyata ini mereka berkeinginan untuk kesebuah negara Georgia yang sedang berkonflik dengan Rusia tentang batas wilayah.

Sewaktu baru memasuki wilayah mereka singgah disuatu desa tempatnya berjanjian dengan seorang yang mengenal wilayah tersebut. Mereka berhenti disebuah tempat yang sedang melakukan pesta pernikahan yang dihadiri oleh keluarga besar dari si mempelai pengantinnya. Tiba-tiba pesawat Rusia menyerang desa tersebut dan hancurlah tempat pesta tersebut. Mereka bertemu dengan seorang korban perempuan yang selamat. Tatia nama perempuan tersebut. Anderz dan sebastian pun membawa  keluarga Tatia yang selamat lainnya ke rumah sakit. Keesokannya keluarga Tatia yang dirumah sakit tersebut menghilang. Disinilah petualangan kedua wartawan ini dimulai.

Mencari dan memasuki wilayah konflik tersebut Anderz dan Sebastian juga ditemani oleh Rezo, seorang tentara Georgia yang sempat bertemu saat peliputan di perang Iraq. Rezo adalah sosok tentara yang selalu ada disaat kedua wartawan ini dalam kesulitan. Rezo sempat memberikan kalung keberuntungannya kepada Anderz karena dia beranggapan bahwa Anderz mirip dengan St. George. St. George adalah seorang prajurit Romawi yang menjunjung nilai kebenaran. Anderz adalah Wartawan perang, dia memberitakan sebuah kebenaran tentang kondisi yang ada di wilayah perang dan itu tidaklah mudah.

Disini mereka lebih mementingkan berita yang telah mereka dapatkan tentang kejahatan perang prajurit bayaran Rusia saat menyerang sebuah desa dari pada nyawanya. Nyawa mungkin bagi mereka hanyalah sebuah prantara untuk menyampaikan berita kepada dunia. Inikah profesionalitas seorang wartawan perang? Yang memberitakan bukan untuk uang semata namun, untuk penyampaian kebenaran berita yang ada.

Berbeda dengan wartawan media mainstreem yang memberitakan sesuatu hanya untuk mengharapkan beritanya laku dipasaran (unsur komersil). Bisa saya ambil contoh demonstrasi yang anarkis lebih sering diliput media sedangkan aksi damai tak ada media yang melirik. Memang masyarakat lebih menyukai sesuatu yang berbeda namun, apakah sesuatu yang berbeda tersbut harus lebih sering untuk diberitakan? Sebenarnya itu dapat merubah sudut pandang masyarakat.

Oh..iya.. salah satu kejahatan perang terhadap wartawan sempat digambarkan disini. Saat Alderz dan Sebastian ketahuan berada di wilayah konflik dan ditahan oleh pasukan Rusia. Saat itu mereka telah memberitahukan bahwa mereka Pers dengan menunjukkan kartu pers mereka namun masih menjadi target penganiayaan oleh pasukan Rusia. Seharusnya, wartawan perang tidak dapat dijadikan tahanan karena memang memilliki hak untuk bisa meliput berita terjadinya konflik.

Di film akhir film ini diperlihatkan dampak-dampak sosial setelah perang yang dirasakan oleh warga  Geogeria. Keluarga yang hilang atau terbunuh, tingkat tuna wisma yang meningkat dikarenakan rumahnya hancur, dan dampak lainnya. Mereka hanya bisa mengenang keluarga yang hilang melalui foto yang masih tersimpan dan sebuah cerita dari keluarga korban tersebut. Inilah dampak dari arogansi keinginan kekuasaan dari negara Rusia yang direkam baik oleh Thomas Anders dan Sebastian di Film 5 Days of War.

Sabtu, 18 Februari 2012

Sex, Lies & Cigarettes'- Vanguard Sneak Peek


Mungkin ini bukan lah film yang beredar dibioskop-bioskop dikota kalian berada. Sex, Lies and Cigarettes merupakan sebuah film dokumenter yang dibuat oleh koresponden Christof Putzel ketika pada tahun 2010 silam ia meliput Konferensi Dunia Untuk Tembakau. Film ini menjadi salah satu episode dari serial dokumenter Vanguard season 5 yang ditayangkan oleh Current TV.

Seluruh dunia tengah menyorot si bocah perokok, Aldi. Videonya di Youtube membuatnya cepat menjadi bahan pembicaraan. Dia satu-satunya perokok yang paling terkenal dari Indonesia. Akhirnya ditelusurilah apa penyebab anak umur 2 tahun ini bisa mengenal rokok. Oleh karena itulah mereka mulai menginvestigasi tentang rokok di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan Amerika, harga sebungkus rokok di Indonesia itu sangatlah murah. Di Amerika sebungkus Marlboro dihargai $12 , sedangkan disini dihargai $2 saja. Inilah salah satu alasan mengapa konsumen rokok meningkat tiap tahunnya. Amerika sengaja membuat pajak yang tinggi di rokok karena mereka telah sadar akan dampak krisis kesehatan kedepannya. Itulah juga yang menjadi alasan berpindahnya target pemasaran industri rokok ke Indonesia.

Penyebab lain mengapa perokok aktif begitu meningkat di Indonesia adalah adanya peran media yang mulai menyusupi brand-brand anak muda saat ini. Lihat saja iklan-iklan rokok saat ini, kebebasan, petualangan dan gaya anak muda lainnya menjadi icon dari rokok. Lihat saja di setiap konser musik di Indonesia, sebagian besar di hiasi oleh logo-logo perusahaan rokok ternama diposter, spanduk, sampai ditempat konsernya. Mereka lah yang mensponsori acara musik-musik itu. Lebih herannya lagi, sponsor terbesar dari pertandingan bola di Indonesia adalah perusahaan rokok terbesar diIndonesia. Perusahaan tersebut tahu bahwa penduduk Indonesia banyak yang suka sepak bola, sehingga dia menyentuh masyarakat dengan pertandingan sepak bola itu sendiri. Hebat proses pemasarannya.

Tidak di Jalan, di tivi, di radio, dan dimana saja indera kita berfungsi mungkin iklan rokok dapat ditemui yang juga dapat dilihat oleh anak-anak yang lain. “Target penjualan rokok memang kepada 17 tahun ke atas, namun itu adalah target resminya, sedangkan target tidak resminya adalah 14 tahun” ujar seorang yang pernah bekerja dibagian pemasaran disebuah perusahaan rokok ternama di Indonesia.

Mungkin saja jika pemerintah mengeluarkan iklan kesehatan tentang bahayanya merokok, para perokok yang sedang menghisap sebatang rokok akan segera berhenti, cepat atau lambat. Namun ternyata disini tidak. Pemerintah malah ketakutan akan kehilangan sumber pendapatan pajak terbesarnya dari rokok. Rela masyarakatnya sekarat karena asap diparu-parunya untuk mendapatkan pemasukan pajak. Berkedok melindungi pekerja, namun ternyata hasil dari pekerja lah yang diinginkan. Jika suatu saat rokok berkurang sudah pasti pekerja akan berkurang di perusahaan rokok, nah disinilah solusi sebenarnya yang seharusnya pemerintah cari. Tentang lapangan kerja pengganti untuk para pekerja nanti.

Untungnya saya sebagai penulis tidak menjadi salah satu korban yang terpengaruh akan kenikmatan tembakau yang terbungkus kertas itu. Sadar akan bahayanya menjadi tameng untuk diri sendiri tentunya. Film yang menarik dinonton sambil menghisap rokok, agar diakhir film nanti bisa mematikan rokok secara permanent.

Mungkin Jika ada yang ingin menonton filmnya bisa klik disini

Senin, 13 Februari 2012

Resensi The Last Samurai


Judul Film: The Last Samurai
Pemain: Tom Cruse, Ken Watanabe, Timothy Spall, Billy Connolly, Tony Goldwyn
Sutradara: Edward Zwick
Penulis Naskah: John Logan, Marshal Herskovitz
Produksi: Warner Bros

The Last Samurai sebuah film yang bercerita tentang sebuah kebudayaan Jepang. Kebudayaan yang berusaha dihilangkan dengan alasan modernisasi dan terinspirasi oleh negara barat.

Semua berawal ketika Kapten Nathan Algren (Tom Cruse) disuruh untuk melatih pasukan jepang untuk melawan para samurai. Para samurai dianggap sebagai kaum pemberontak dikarenakan mereka membantah sang Kaisar dengan kebijakannya yang melarang penggunaan pedang dalam sehari-hari. Disini kaum samurai dipimpin oleh Katsumoto (Watanabe Ken) mencoba mempertahankan budayanya mereka.

Perang antara pasukan jepang yang masih amatiran dalam segi berperang yang dipimpin oleh Kapten Algren dan para kaum samurai yang dipimpin oleh Katsumoto tak dapat terelakkan. Berakhir dengan ditawannya Kapten Algren oleh kaum Samurai. Disini saya melihat dalam memperlakukan seorang musuhnya, Katsumoto memperlakukan selayaknya dia adalah keluarga. Itulah kebudayaan mereka, menghormati sebagai tamu meskipun itu adalah musuhnya.

Ketika di tawan, kapten Algren merasakan sebuah kedamaian di desa kaum Samurai ini. Kedisiplinan dan keteraturan sangat terasa ketika dia mengelilingi desa ini. Riuh pikuk perkotaan tidak terasa disini, itu yang membuat dia merasakan bahwa telah terjadi hubungan spiritual dengan alam.

Disini lah dia mempelajari bahwa yang terjadi sebenarnya adalah, Amerika (negara barat) mencoba untuk membuat strategi dagang (senjata mesin) dengan jepang yang juga membuat Kaisar jepang bingung tentang apa yang harus dia prioritaskan, modernisasi atau kebudayaannya. Akhirnya sejak saat itu Kapten Algren memilih untuk berada di pihak Katsumoto untuk mempertahankan kebudayaannya.

Kehidupan bersama para Samurai dia jalani hingga akhir musim dingin. Kapten Algren secara tidak langsung telah membentuk sebuah karakter baru, seorang samurai.Benar ternyata bahwa kepribadian kita itu dibentuk oleh lingkungan kita sendiri.

Perang pun tak dapat dihindari. Katsumoto berusaha mempertahankan prinsipnya tentang jati dirinya, dan para petinggi kerajaan juga telah dibutakan dengan perjanjian-perjanjian oleh negara asing tentang modernisasi.

Pasukan Samurai Katsumoto kalah telak. Diakhir perang Katsumoto terduduk untuk melakukan ritual menghunuskan pedang sebagai tanda dia telah kalah di perang ini sebagai bentuk menjaga kehormatannya dengan dibantu oleh Kapten Algren. Pasukan Jepang yang dihadapi oleh Katsumoto pun berlutut pula sebagai bentuk penghormatan terakhirnya kepada orang yang berusaha menjaga kebudayaan bangsanya sendiri.

Disini saya mendapatkan sebuah pesan bahwa:

Jangan melupakan kebudayaan sendiri hanya untuk menuju modernitas,Karna kebudayaan kita itu adalah identitas kita dimata dunia.

Ada satu bagian ketika Kapten Algren sedang bertanding kendo (pedang tiruan dari kayu) dengan seorang anak buah Katsumoto. Dia berkali-kali kalah, kemudian seorang keluarga Katsumoto berbisik bahwa dia terlalu banyak berpikir, fokuslash. Ternyata benar, Algren terlalu banyak hal yang dia pikirkan cara memenangkan pertandingan, perang dengan jepang menjadi beberapa yang dia pikirkan. Ketenangan lah yang dia butuhkan untuk menyeleseikan sebuah masalah.

Senin, 23 Januari 2012

Resensi CJ7




Judul Film: CJ7

Pemain: Stephen Chow, Kitty Zhang Yuqi, Xu Jian, Lam Tze-Chung

Sutradara: Stephen Chow

Penulis Naskah: Stephen Chow, Chi Keung Fung

Produksi: Columbia Pictures Film Production Asia


Pertama melihat film yang dibintangi Stephen Chow ini, yang saya bayangkan pertama sentuhan komedinya sangat kental seperti film sebelumnya yaitu SHAOLIN SOCCER dan KUNG FU HUSTLE, namun ternyata tidak. Sentuhan komedinya tetap ada tapi yang lebih ditonjolkan disini adalah sisi drama hubungan ayah dan anak itu sendiri


Film ini bercerita tentang Stephen Chow yang berperan sebagai Ti, ayah dari seorang anak lelaki yang bernama Dicky. Dicky diperankan oleh Xu Jian. Ti disini sebagai buruh bangunan yang miskin dan tinggal disebuah bekas bangunan tua bersama anaknya Dicky. Berkat kerja kerasnya untuk mencari uang TI mampu menyekolahkan anaknya disekolah elit. Namun karena Ti merupakan dari golongan kelas bawah terkadang dia minder dengan lingkungan sekolah anaknya yang elit.Dari sini saya bisa melihat luar biasa beratnya tugas seorang kepala keluarga (ayah) yang harus mengorbankan dirinya, membanting tulang untuk bisa memberikan sesuatu yang terbaik untuk anaknya yaitu pendidikan yang merupakan bekalnya kelak.


Dicky berada dilingkungan sekolah yang elit, terkadang dia merasa iri dengan teman-teman nya yang memiliki permainan yang bagus dan terbaru pemberian orang tuanya. Disuatu saat Dicky merengek meminta dibelikan mainan oleh anaknya namun dia tidak bisa apa-apa karena kondisinya yang sangat memprihatinkan. Tapi Dicky kemudian menemukan sebuah bola yang merupakan sebuah anjing luar angkasa dan kemudian dinamakan CJ7. Pada akhirnya CJ7 inilah yang akan mengorbankan nyawanya kepada Ti yang meninggal akibat kecelakan kerja.


Meskipun miskin disini Ti selalu menjunjung tinggi yang disebut kejujuran kepada anaknya. Terkadang anaknya mendapatkan nilai yang kurang memuaskan ayahnya, namun dia merubahnya agar ayahnya bahagia. Bukan, kebahagian yang diinginkan Ti dari sebuah hasil ujian anaknya , namun yang diinginkan adalah sebuah kejujuran.


Sentuhan drama realita kemiskinan yang ingin disampaikan begitu berhasil membangun emosi penonton film ini. Akting yang natural Xu Jian dengan berbagai ekspresinya sangat membantu kesuksesan film ini. Sekali lagi film ini menurut saya sangat unggul dalam bagian ceritanya yang sangat menyentuh.


Setelah film ini selesei saya nonton, pertanyaan pun menyinggahi pikiran saya. Apakah saya bisa menjadi sosok Ti,sosok kepala keluarga yang mampu membahagiakan keluarga saya kelak dengan segala kekurangan saya? Semoga..Aminn..


Saya ingin menutup postingan ini dengan sebuah kutipan dari Dicky tentang ayahnya yang menyukai guru sekolahnya:


“Tak mudah menaklukkan hati seorang wanita, apalagi jika kau tak lucu”