Tampilkan postingan dengan label Realita SistemHolic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Realita SistemHolic. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 November 2012

#MTGF; Proses Pengenalan Budaya Dari Dunia Maya untuk Dunia Nyata



Berawal dari hastag #MTGF2012 yang diangkat oleh akun twitter @Jalan2Seru_Mks pada 3 minggu yang lalu. MTGF2012 adalah Makassar Tradisional Games Festival 2012, festival yang coba diadakan oleh akun tersebut dengan tujuan melestarikan permainan tradisional yang nyaris punah. Sekarang saya melihat sepulang sekolah, anak-anak lebih memilih duduk didepan komputer dengan memainkan game online. Sangat kontradiksi dengan kondisi saya dulu, yang langsung menuju tanah lapang dekat rumah untuk memainkan permainan tradisional dengan teman-teman sekitar.


Menurut saya, banyak aspek yang mempengaruhi hilangnya permainan tradisional dari tangan anak-anak saat ini. Beberapa diantaranya yaitu:
  • Kurangnya sarana lapangan/taman untuk media bermain anak dimakassar.
  • Kuatnya pengaruh modernisasi, terlebih pada hal game online
  • Kurangnya pengaruh pemerintah dalam pelestarian budaya permainan tradisional

Melihat beberapa hal diatas, menurut saya wajar jika teman-teman @Jalan2Seru_Mks mengambil inisiatif dengan kegiatan #MTGF2012-nya. Setidaknya selangkah lebih maju dari pada pemerintah yang kurang memikirkan budaya ini.

Dengan bantuan social media dan para penggiatnya, #MTGF2012 berusaha diselenggarakan. Ngetweet, meretweet dan tetap memainkan hastag #MTGF2012 menjadi strategi untuk menarik minat perindu permainan tradisional di twitter. Di Facebook ternyata telah disiapkan strategi juga dengan pembuatan halaman event Makassar Tradisional Games Festival2012 (MTGF2012). Memanfaatkan dunia maya menjadi strategi untuk bisa menyentuh mereka-mereka yang telah beralih ke arah modern dengan melupakan budaya mereka.



Sosialisasi perrmainan tradisional
         di Benteng Somba Opu
Minggu, 28 Oktober 2012. Kegiatan yang direncanakan tersebut mampu terlaksana dengan sangat baik. Penggiat social media dan orang-orang yang merindukan permainan tradisional telah berkumpul dilokasi yang telah ditentukan, di Benteng Somba Opu, Makassar. Melihat jumlah yang hadir membuat saya sedikit kaget, jumlah tersebut tidak bisa saya katakan sedikit karena lokasi saat itu sangat ramai oleh berbagai usia. Gambarannya itu seperti lagi nonton penjual obat keliling, ada yang memegang megaphone dan yang lainnya duduk menonton dengan mengelilinginya. Bedanya ada yang bawa batu, tali dari karet dan perlengkapan permainan lainnya. Kakak dari @Jalan2Seru_Mks ternyata sedang melakukan sosialisasi ulang tentang permainan yang disajikan. 14 permainan yang disajikan pada #MTGF2012 Maccukke' , Enggo’ (petak umpet), Mallongga’(Engrang), Mallogo, Massanto', Mang’asing, Mabbenteng, ThunderDende’, Gebo’Lambasena (main karet), Tar-tarMaggoli’ (main kelereng) dan  Beklan.


Permainan Massanto'
Waktu pada saat itu seakan berhenti dan bisa dikatakan berputar kembali seperti semasa sekolah dasar dulu. Waktu dimana kami bisa menikmati permainan tradisional, baik sedang istirahat sekolah, hingga kami dicari oleh orang tua untuk mandi sore. Waktu saat ini pun sudah sore, seperti dulu baju telah basah bermandikan keringat dan sekarang kami telah terpuaskan dengan nostalgia permainan ini. Kepuasan permainan tradisional menurut saya berada saat kita berjuang mengalahkan teman main kita dengan bermandikan keringat, dan itulah yang saya rasakan kemarin saat bermain Mang’asing. Menjadi bagian dari Kelompok 1 dipermainan Mang’asing membuat saya merasakan kembali kepuasan yang sudah lama hilang.


Permainan Mallongga'
             (Engrang)
Rasanya bohong kalau ada yang tidak merindukan memainkan permainan tradisional mereka ini. Bohong pula kalau ada yang tidak merindukan masa-masa pulang sekolah yang di isi dengan main Kelereng atau main Asing. Bohong juga kalau ada yang tidak pernah bangga sudah mengalahkan temannya main lompat tali. Kebohongan-kebohongan tersebut lah yang telah berhasil dikembalikan oleh event budaya ini.Sekarang saya menganggap bahwa saya anak yang beruntung karena masih dapat menikmati permainan tradisional yang berkembang dilingkungan tempat tinggal. Berbeda dengan anak zaman sekarang yang sudah merasakan dampak besar dari perkembangan teknologi dan mulai melupakan budaya permainan mereka. Maka sekali lagi beruntung lah saya karena masih bisa menemukan akun twitter yang berinisisatif mengenalkan permainan tradisional kembali kepada anak-anak.

Saya sekarang sadar bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dihindari karena itu dampak globalisasi dan modernitas, namun semua itu perlu pengecualian yaitu tidak boleh melupakan budaya sendiri. Menurut saya, budaya itu identitas diri kita. Kalau kita melupakan budaya, berarti kita juga melupakan identitas kita tersebut. Seperti manusia yang lupa nama. Untungnya perkembangan teknologi tersebut masih bisa menjadi proses sosialisasi untuk #MTGF2012 dengan memanfaatkan media sosial, ujung tombak  perkembangan teknologi yang menjangkiti kaum muda saat ini. Dari social media lah konsep awal kegiatan ini hadir, dan dari social media lah budaya permainan tradisional diperkenalkan kembali ke dunia nyata.

Selamat menikmati perkembangan teknologi yang ada tanpa melupakan budaya. Mari kembali memainkan permainan tradisional yang dulu sempat terlupa.

Kamis, 25 Oktober 2012

Jika saya menjadi ketua KPK.


Korupsi menurut saya adalah sebuah prilaku penyelewengan uang negara yang dilakukan dengan penuh kesadaran seorang manusia. Korupsi merupakan kejahatan yang lebih jahat dari para teroris atau sipelaku mutilasi Ryan dari Jombang. Mereka semua membunuh dengan terang-terangan. Tidak seperti koruptor yang membunuh perlahan dengan beban kemiskinan yang diberikan kepada korban yang meluas.
Melihat dari sisi inilah, jika saya menjadi ketua KPK saya akan melakukan 3 hukum sosial pula kepada mereka. Hukum yang dapat membuat mereka merasakan dampak dari perbuatan mereka, dan setidaknya ini lebih mulia dari pada proses hukuman mati.
3 Hukum Sosial Koruptor:
  • Museum Koruptor

Museum koruptor berperan seperti penjara yang memamerkan koruptor di Indonesia yang berada dalam sel jeruji, namun tidak untuk melestarikan koruptornya. Museum ini menerima kunjungan dari para pelajar, mahasiswa dan masyarakat lainnya. Didalam Museum ada seorang yang bertugas seperti sipir penjara yang mengajak berkeliling pengunjung untuk menjelaskan kasus-kasus dari koruptor tersebut. Setelah masa hukuman disini selesai wajah mereka masih terpampang dalam museum ini. Hitung-hitung wisata pengetahuan untuk masyarakatlah.
  • Memberikan identitas Koruptor.

Identitas ini berfungsi sebagai tanda pengenal bahwa mereka pernah menyelewengkan uang negara. Identitas koruptor dilekatkan pada segala identitas di negara ini yang berlaku seumur hidup. misalnya, KTP, SIM, Pasport. Dalam pengurusan kartu kredit foto copy KTP sering digunakan untuk proses administrasi dan ketika menunjukkan si koruptor ini menunjukkan KTP nya dia akan dikenali bahwa pernah melakukan korupsi, begitu pula dengan identitas yang lain. Pemberian identitas ini dilakukan setelah hukuman di museum koruptor ini selesai. 
  • Menjadi pekerja sosial.

Menjadi pekerja sosial disini dilakukan sebagai pertanggung jawaban dari hasil pajak yang diambil dikas negara oleh koruptor. Pajak dibebankan pada rakyat, koruptor mengambil hasil pajak rakyat akibatnya mereka harus menjadi pelayan masyarakat. Misalnya, membantu PT Jasa Marga mengecat garis dijalanan. Menjadi pekerja sosial ini dilakukan setelah hukuman di museum koruptor ini selesai.
Koruptor merupakan cetakan dari orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yang moralnya telah rusak termakan sistem. Untuk membentengi moral dari penerus bangsa ini saya sebagai ketua KPK yang mempunyai strategi.

Strategi Moral Korup Force
·         Pengenalan anti Korupsi pada wajib belajar 9 tahun.
Pengenalan ini berfungsi untuk mengenalkan dan membiasakan kepada siswa bahwa korupsi itu merupakan hal yang tidak baik. Penanaman moral dan etika yang dikemas dalam kurikulum pelajaran diharapkan menghasilkan budaya baru, budaya dengan pembentengan moral secara dini. Pengenalan anti korupsi ini juga masih terkait dengan museum koruptor karena mereka juga dapat mengunjungi para koruptor untuk mengetahui bahwa di Indonesia memiliki makhluk seperti itu namun jangan untuk dibanggakan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa hal-hal yang dibiasakan sejak awal akan lebih bisa di terima nantinya. Mereka yang memiliki gelar koruptor itu merupakan jebolan dari perguruan tinggi dan memiliki gelar yang tidak murah. Merekalah orang-orang yang terlambat memilikil moral dan nurani, juga tidak memiliki budaya malu. Semoga hal-hal ini dapat mengenalkan rasa malu untuk perbuatan yang menurut nurani mereka salah, kecuali mereka memang tidak memiliki nurani sama sekali.
Terima kasih.

Kamis, 06 September 2012

Rokok Bukan Hidangan pada Acara



Saya sempat melakukan perjalanan di sebuah  kampung  yang juga masih berada dalam provinsi Sulawesi Selatan. Selama semalam saya singgah dikampung tersebut. Kebetulan pada malam itu dikampung tersebut seorang warganya sedang mengadakan acara nikahan, mereka menyebutnya malam mapacci’. Acara yang dilaksanakan 1 malam sebelum acara resepsi untuk masyarakat setempat.

Seusai acara mapacci’ dilanjutkan oleh permainan kartu domino, acara hiburan untuk kaum lelaki tepatnya. Puluhan orang lelaki menempati kursi yang telah disediakan oleh keluarga yang mengadakan acara ini. Tidak lama permainan kartu dimulai hidangan pun dikeluarkan untuk melengkapi acara malam itu. Mulai dari berbagai jenis kue hingga teh menjadi hidangannya, namun tidak lama kemudian masing-masing pemain kartu tersebut diberikan sebungkus rokok dan korek. Ternyata sebungkus rokok dan korek tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah hidangan pula pada acara tersebut. Tidak lama kemudian tenda yang dibawahnya dipenuhi pemain kartu, dipenuhi pula oleh asap rokok yang semakin mengepul.

Bisakah saya mengatakan bahwa acara ini adalah acara sakit paru-paru secara berjamaah? Alasan saya mengatakan hal tersebut karena acara ini sedang difasilitasi untuk menuju ke penyakit tersebut. Jumlah yang hadir pada malam itu pun tentunya sangatlah banyak. Tidak hanya lelaki yang hadir pada malam itu, perempuan pun hadir namun disibukkan pada urusan hidangan makanan dan minuman. Dari sini pun sudah sangat terlihat pembagian perokok aktif dan perokok pasifnya, perokok aktif adalah kelompok lelakinya dan perokok pasifnya adalah yang perempuan.

Sempat saya bertanya dengan kepala desa setempat tentang dihidangkannya rokok pada acara seperti ini, namun ternyata tidak setiap acara rokok dihidangkan, semua tergantung pemilik hajatan tersebut. Dihidangkannya rokok disana mungkin untuk memperlihatkan status ekonomi bagi keluarga tersebut kepada masyarakat atau untuk menjadi daya tarik tentang acara tersebut. Sengaja saya tidak memasukkan gambar seorang perokok disana agar tidak menginspirasi masyarakat yang untuk merokok.

Pada Paginya saya sempat menyinggahi puskesmas Kecamatan setempat. Disana saya menemukan sebuah poster bertuliskan “Jangan ki’ sajikan rokok diacara ta’, Daeng”. Arti tulisan tersebut “jangan sajikan rokok diacara anda, pak”. Penyajian rokok pada acara dikampung-kampung seperti tersebut tentunya akan melahirkan kebudayaan nantinya. Sebuah kebiasaan yang terbawa terus menerus. Ketakutan saya melihat acara tersebut, anak-anak yang melihat bapak-bapaknya merokok pada malam itu akan mengikuti jejak bapaknya karna beranggapan bahwa itu benar. Semoga hanya sekedar ketakutan saya saja.

Selasa, 01 Mei 2012

May Day Hari Buruh Sedunia

Google.com
May Day adalah peringatan hari buruh internasional yang mulai ditetapkan pada tanggal 1 Mei 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions di Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss. Kongres itu pun dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja di berbagai belahan dunia.

May Day sendiri lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat. 

Kaum kapitalis untuk mendapatkan keuntungan yang besar pasti akan memanfaatkan kaum pekerjanya karena kaum pekerja memiliki tenaga dan waktu dan itulah yang menjadi sumberdaya bagi kaum kapitalis. Mereka (kaum kapitalis) berusaha mendapatkan keuntungan yang besar dengan mengorbankan tenaga dan waktu bagi kaum pekerja. Kerja 20 jam sehari adalah bukti nyata bahwa kaum pekerja tak dimanusiakan lagi. Tak ada bedanya mereka dengan robot jika diberikan waktu untuk 20 jam untuk bekerja.


Google.com


Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.

Google.com

Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.

Kekuatan buruh atau kaum pekerja tidaklah kecil dinegara manapun. Proses perekonomian mampu mengalami macet dalam perputaran jika terjadi pemogokan buruh meskipun hanya sehari. Semua bisa tak terjadi jika kesejahteraan kaum pekerja juga mampu diperhatikan oleh si pemilik modal namun, apakah mereka mampu berpikir kesejahteraan orang lain jika mendahulukan kesejahteraan pribadi? Hubungan yang saling membutuhkan seharusnya mampu pula menjadi dasar dalam pekerjaan. 

Kaum pemilik modal sudah pasti adalah mereka yang memiliki modal atau harta untuk menjalankan suatu usaha sedangkan kaum pekerja adalah kaum yang hanyalah mengandalkan tenaga dalam melakukan pekerjaannya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup sudah pasti kaum pekerja akan bekerja untuk mendapatkan upah hasil kerjanya. Disinilah kaum pemilik modal melakukan permainan untuk mendapatkan tenaga pekerja yang banyak namun dengan membayar upah yang murah. Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. 

Di May Day tahun ini salah satu isu nya tentang isu outsourching atau tenaga kerja lepas. Outsourching menjadi alasan yang baik untuk tidak terikat kontrak dengan kaum pekerja agar mampu kapan saja menghentikan mereka tanpa pesangon apapun di akhir kerja. Beberapa minggu yang lalu saya sempat mengunjungi sebuah pabrik yang terletak di Kawasan Industri Makassar dan saya menemukan seorang yang berstatus outsourching selama lebih dari 7 tahun. Hak untuk menjadikannya tenaga kerja tetap yang ingin pekerja ini dapatkan dari perusahaan di 1 Mei tahun ini. Semoga penghapusan outsourching mampu menjadi solusi untuk kesejahteraan para kaum pekerja

Jumat, 13 April 2012

Cantik itu .....



Media penyusun konsep cantik dimasyarakat

Kemarin disela-sela waktu menunggu kelas dimulai saya duduk membelakangi sekelompok perempuan yang sedang sibuk membaca sebuah majalah kecantikan. Kelas terasa begitu sepi karena sebenarnya masih 30 menit lagi kelas dimulai. Tak ada suara dikelas sejak saya datang dan duduk dikelas ini, namun beberapa menit kemudian terjadi percakapan.

Perempuan tomboy: wah..pakai krim yang mana supaya kulit saya terlihat lebih putih?

Perempuan pemilik majalah: pakai krim ini saja *menunjuk gambar krim di majalah*..

Perempuan tomboy: wah.. Rp 159.000 untuk sebotol kecil krim pemutih?

Perempuan pemilik majalah: kalo krim yang itu untuk pemakaian 1 bulan, ada juga yang 2 minggu sudah putih kulitnya tapi harganya 2x lipat..

Perempuan yang mengaku cantik: wahh.. kalau mau cantik memang butuh modal besar..

Perempuan pemilik majalah: betul!! kalau mau cantik memang butuh produk-produk berkualitas..

Perempuan tomboy: *cemberut*

Nah.. sambil mendengarkan percakapan mereka saya tersenyum. Beberapa kesimpulan dapat saya ambil dari percakapan tersebut.

  1. Cantik itu mahal, sudah jelas terlihat tujuan penawaran perempuan pemilik majalah tersebut adalah menawarkan produk-produk kecantikan yang harganya relatif tidak murah. Harga sebuah krim pemutih dengan kualitas 4 minggu saja bisa mencapai Rp.159.000, bayangkan jika dalam waktu 4 minggu krim tersebut tidak menghasilkan apa-apa atau tidak memutihkan, mungkin si konsumen akan berpikir "proses pemutihan kulitnya sudah mulai berjalan seminggu kedepan pasti sudah mulai putih kulit ini" yang otomatis akan membeli se botol krim lagi untuk memutihkan kulitnya.

    Hitung-hitungnya belum sampai disitu. percakapan tadi hanya sekitaran krim pemutih, bagaimana jika perempuan tomboy tersebut sudah cantik? otomatis dia akan merasa ada kekurangan lagi untuk dirinya, misalnya penghalus kulit, bedak, parfum dan lain-lain yang budgetnya juga tidak kecil atau mahal. Pola konsumerisme seperti inilah yang akan tumbuh di diri perempuan-perempuan tersebut untuk menutupi kekurangan yang masih ada pada dirinya. Manusia memang tidak pernah bersyukur.

  2. Perempuan adalah mangsa empuk kapitalis, lihat saja iklan-iklan di majalah, televisi dan internet yang mengatakan bahwa "kulit putih itu cantik" dan alhasil teman saya pun menjadi korbannya (perempuan tomboy). Tidak pernah saya melihat iklan kecantikan itu adalah perempuan yang berasal dari kulit yang (maap) hitam. Begitu hebatnya membentuk mindset tentang kecantikan dengan menggunakan iklan yang berulang-ulang agar produknya laku dipasaran dan seperti itulah kapitalis pemangsa perempuan beraksi. Sekali lagi televisi menjadi media prantara dari kapitalis kecantikan bermain. Televisi telah mencuci pemikiran kita dan telah membuat kita bermimpi, ingin seperti artis yang mengiklani produk tersebut. Ingatlah, standar kecantikan kalian sedang dibentuk oleh majalah dan televisi. Dasar permainan para kapitalis kosmetik adalah perempuan selalu berpikir ingin cantik, lebih dan lebih, dan itulah yang dimanfaatkan. Saat ini kita masih berbicara dikisaran kosmetik dan belum pada tataran style busana yang masuk dalam target kapitalis.

    Berbeda dengan kaum lelaki yang menurut saya lebih terkesan cuek. Perempuan lebih mengedepankan tampilan nya didepan umum. Saya sebenarnya agak sedikit tidak percaya bahwa kecantikan adalah hal yang utama dimata perempuan. Mungkin lingkungan lah yang membentuk mereka seperti itu. Bisa kita lihat misalnya pada saat ingin melamar pekerjaan, point "penampilan menarik" tak pernah hilang dari syarat melamar pekerjaan, sekali lagi kecantikan dan ketampanan yang diperhatikan. Point "penampilan menarik" selalu menempati posisi teratas disetiap syarat pelamaran pekerjaan dan akan membuat sebagian perempuan untuk melakukan sentuhan-sentuhan kecantikan agar dapat bekerja ditempat yang dia inginkan mengesampingkan kemampuan dibidangnya tersebut.


Mungkin bagi teman-teman itu adalah hal yang biasa, namun jika kalian telah berkeluarga nanti didalam keuangan keluarga bakalan ada anggaran untuk pemeliharaan kecantikan istri kita dan itu wajib dengan nominal yang besar pula. Secara tidak langsung bisa saya katakan bahwa anggaran pemeliharaan kecantikan bagi perempuan sama saja seperti anggaran pembelian rokok bagi laki-laki dan itu terkesan menghambur-hamburkan uang saja. Sama seperti judul note teman saya bahwa "Cantik Bukan Kosmetik" yang berarti perempuan cantik itu bukan diciptakan dari kosmetik yang dia gunakan. Menurut saya cantik tercipta dari proses tingkah laku kita sehari-hari.



Salah satu iklan televisi yang membangun mindset "putih itu cantik"

Banyak perempuan yang menghabiskan uangnya untuk membeli kosmetik tidak untuk membeli buku untuk sekedar menambah pengatahuannya. Itulah akhirnya kebanyakan perempuan sama seperti yang dikatakan oleh Cina di film Cin(T)A, "Kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran". Menurut saya perempuan pintar lebih dicari oleh kaum lelaki dibandingkan perempuan cantik, yaa.. itu menurut saya.

Banyak pula perempuan yang mengaku cantik namun mengidentikkan bahwa dia adalah perempuan. Menurut saya perempuan itu adalah yang menutupi setiap senti auratnya, jika auratnya telah tertutup sudah pasti dia cantik. Banyak perempuan yang menggunakan pakaian yang terbuka agar dimendapatkan predikat cantik.

Rasa bersyukurlah yang seharusnya ditingkatkan, bukan jenis kosmetiknya yang digunakan. Perempuan itu akan lebih terlihat tak ada kekurangannya jika dia sendiri tidak meresahkan kekurangan yang ada pada dirinya itu. Sebenarnya rajinlah beribadah, air wudhu membuat wajahmu tampak bercahaya.


Kamis, 29 Maret 2012

#TolakKenaikanBBM

Aksi massa melewati Taman Makam Pahlawan 


Pagi ini kami kembali berbaris, kembali turun kejalan dengan tuntutan yang sama, kembali mendengarkan suara megaphone di tangan kawan seperjuangan. Tolak Kenaikan BBM! Tuntutan yang seminggu ini terus di gaungkan oleh kawan mahasiswa yang masih perduli dampak kerakyat nantinya. Dampak yang telah dirasakan 2 minggu sebelum keputusan kenaikan BBM itu betul-betul disahkan oleh orang-orang berjas disana. Biaya bahan-bahan pokok sudah melonjak perlahan di pasaran. Silahkan bayangkan sendiri jika itu betul-betul naik. Sungguh memprihatinkan orang-orang diluar sana nntinya.

Kali ini banyak yang melakukan aksi yang serupa dijalanan. Ada yang melakukan pemblokiran jalan, teaterikal jalanan atau hanya sekedar menyampaikan orasi atas pernyataan sikap. Di Makassar sendiri, mungkin tak pernah absent menjadi sorotan media seminggu ini. dan puncaknya terjadi pada tanggal Kamis, (29/03) kemarin. Hampir sekitar 2000 mahasiswa dan gabungan organisasi yang lain bergabung memerahkan (Almamater merah=UNHAS) jalanan di Jalan Perintis Kemerdekaan. Dari kejauhan luar biasa ramainya siang itu. Gerakan hari ini menjadi sebuah gerakan Sekretariat Bersama (SEKBER) Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan.

merdeka.com

Aksi hari ini ingin menyampaikan beberapa pesan kepada mereka para pejabat di Senayan sana:
  1. Tolak kenaikan harga bahan bakar minyak
  2. Pangkas anggaran negara yang tidak penting
  3. Transparansi pendapatan negara dari sektor MiGas
  4. Perbaiki tata kelola dari sektor MiGas
Aksi ini juga ingin menyampaikan sebuah pesan kepada masyarakat pada umumnya:
Makassar tidak kasar!!!
Namun, pesan untuk masyarakat ini tidak terlalu tersampaikan karena kurangnya media yang ingin menyampaikannya. Tidak menjual mungkin menjadi alasan mengapa pemberitaan seperti ini tidak terlihat di media pemberitaan di kota ini.

Aksi hari ini hingga pukul 6 sore hari. Semua masih berjalan damai dan dengan peserta aksi yang ramai. Demonstrasi yang seperti inilah yang seharusnya merubah mindset masyarakat dan menjadi bukti bahwa demonstrasi tidak harus kasar atau anarkis. Demonstrasi adalah seni menyampaikan pendapat kepada masyarakat dan tidak membias kan pendapat itu nantinya dengan gerakan yang terkesan tidak perlu atau anarkistis. Anarkistis hanya mengalihkan perhatian masyarakat terhadap pesan yang ingin disampaikan ke gerakan spontan kita.


Long march kembali ke Unhas dari Fly Over

Semoga pesan-pesan yang tidak dibahasakan oleh media-media itu mampu terwakili dengan postingan ini. #MakassarTidakKasar #TolakKenaikanBBM

Minggu, 04 Maret 2012

Industri Politik




Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sebuah Dialog Kebangsaan yang salah satu pembicaranya adalah salah satu wakil ketua DPR RI. Di dialog tersebut beliau sempat membahas tentang industri politik di Indonesia. Industri yang mencetak orang-orang yang awalnya bukanlah siapa-siapa dan ingin dijadikan sebagai wakil rakyat kelak.

Idealnya Untuk memasuki industri politik menurut beliau memiliki 4 syarat, yaitu:

  1. Integritas, nilai – nilai yang kita percayai, kita yakini, kita perjuangan, kita pegang.
  2. Populer, Ketika sosok kita mampu dikenali oleh orang banyak itu merupakan sebuah modal.
  3. Kompetensi, pemilikan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan.
  4. Sumberdaya, lebih dibahasakan sebagai modal materi atau kekayaan.

4 syarat diatas menjadi syarat yang harus dimiliki oleh orang-orang yang mendaftar sebagai calon legislatif atau para pejabat tinggi menurut kaca mata ideal. Dilihat dari syarat-syarat diatas bisa dikatakan bahwa tidak ada yang mampu diwakili oleh kelompok masyarakat berekonomi rendah meskipun mereka memiliki kompetensi dan integritas karena mereka pasti akan terbentur pada syarat populer dan sumber daya. Tanpa sumber daya sudah pasti mereka bakalan sedikit mencetak Baliho, kalender, kaos dan media kampanye lainnya seperti yang bisa teman-teman temukan di kehidupan sehari-hari ini. Tanpa sumber daya pula populeritas tak dapat ditemukan.

Beda halnya ketika yang mereka punyai hanyalah sumber daya tanpa integritas, kompetensi dan populeritas. Hanya bermodalkan kekayaan mereka menyebar baliho dan poster-poster disepanjang jalan untuk menghasilkan populeritas. Kompetensi dan integritas dapat dihasilkan seiring sejalan pada saat mereka telah terpilih dilegislatif.

Beginikah bentuk pendidikan politik saat ini? Sebuah bentuk industri politik instan yang hanya menghasilkan pemimpin tanpa moral yang kurang baik karena hanya memikirkan modal kampanye mereka kemarin. Tidak heran jika korupsi di Indonesia memiliki posisi pertama di Asia Pasifik. Posisi pertama lembaga di Indonesia yang terkorup dapat ditemukan di bagian Kabupaten. Sesuatu yang sangat dekat dengan kita, Politik dan Korupsi.

http://www.gatra.com/hukum/31-hukum/8220-pemkab-lembaga-terkorup-di-indonesia

http://www.gangsadar.com/2012/03/peringkat-daftar-10-negara-terkorup-di.html

Jumat, 24 Februari 2012

Kekerasan Akademik di Kampus


Menurut Blask (1951) kekerasan, violence, adalah pemakaian kekuatan, force, yang tidak adil, dan tidak dapat dibenarkan, yang disertai dengan emosi yang hebat atau kemarahan yang tak terkendali, tiba-tiba, bertenaga, kasar, dan menghina. Kekuatan itu, biasanya kekuatan fisik, disalahgunakan terhadap hak-hak umum, terhadap aturan hukum dan kebebasan umum, sehingga bertentangan dengan hukum.

Pemilik kekuatan tertinggi di kampus sudah pasti mereka sang birokrat yang terdiri dari dosen-dosen sebagai seorang yang mengajar kita didalam kelas. Interaksi kita tak pernah lepas dari mereka selama masih menyandang status mahasiswa. Mulai dari kita masuk kuliah kita telah bertemu dan dengan mereka di Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), sebuah proses penyambutan mahasiswa baru yang diadakan di Baruga A.P. Pettarani untuk mahasiswa UNHAS, hingga dalam proses ujian skripsi. Semua tak pernah lepas dari mereka sang pendidik. Dan mereka adalah sang penyusun sistem yang berlaku dikampus.

Di Fakultas Ekoonomi UNHAS, lebih tepatnya pada jurusan Akuntansi kekerasan akademik yang berlaku adalah kekerasan tidak langsung yang mampu menyerang si Mahasiswa itu sendiri dan menyerang mental. Semua dikarenakan sebuah sistem tentang kurikulum mata kuliah yang diprogramkan. Mata kuliah yang berlaku itu merupakan mata kuliah yang bersyarat. Misalnya saya tidak bisa mengambil mata kuliah Akuntansi Keuangan lanjutan 2 jika tidak lulus matakuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan 1, sedangkan mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan 1 bisa saya programkan kembali pada 2 semester berikutnya atau tahun depan. Nah, bentuk kekerasannya disini dapat dilihat dari perlakuan sistem program mata kuliahnya yang secara tidak langsung menyerang psikologis mahasiswa tersebut. Bayangkan saja jika seorang mahasiswa tidak lulus 1 mata kuliah saja, sudah pasti dia akan terlambat 1 tahun untuk selesei.

Mahasiswa tak dapat disalahkan sepenuhnya jika dia tidak lulus, terkadang kita menghadapi karakter dosen yang berbeda-beda.

· Ada tipe dosen yang sangat tidak objektif, meskipun kita malas dalam mengerjakan tugas nilai kita akan sama dengan nilai teman kita yang sangat rajin dan aktif dalam segala penilaian kepatutan mahasiswa pada umumnya dikelas.

· Ada pula tipe seorang dosen yang sangat perfeksionis, atau jika dia tidak mampu mengerjakan 1 tugasnya yang memberatkan, misalnya membuat ringkasan mata kuliah yang terdiri dari 10 halaman double folio maka dia tidak akan lulus.

· Ada pula tipe dosen yang sensitif, jika kita pernah secara langsung atau tidak langsung menyinggung dia, misalnya tentang seorang dosen yang kebetulan menjabat menjadi salah satu wakil dekan dan terindikasi terlibat dalam penyelewengan dana difakultas yang berhasil diungkap oleh jurnalis-jurnalis fakultas. Kemudian tanpa sebab yang jelas dia dapat saja memberikan nilai error untuk mata kuliahnya jika kita ketahuan sebagai salah satu dari bagian jurnalis-jurnalis tersebut.

Secara Ilmu Psikologi Contoh kasus kekerasan pendidikan diatas tergolong kategori perilaku agresi. Bisa dikatakan Perilaku agresi, karena seseorang memberikan stimulus tidak menyenangkan yang merugikan orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Baron & Byrne, 1994; Brehm & Kassin, 1993; Brigham, 1991 yang menyatakan bahwa agresi merupakan perilaku yang dimaksudkan menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Kemudian kekerasan prilaku agresi inilah yang memicu ke kekerasan akademik selanjutnya.

Jika kita telah mendapatkan nilai Error dari salah satu tipe dosen diatas sudah pasti kalian akan tinggal lebih lama dikampus atau akan terlambat dalam lulus. Semua karena sebuah sistem pendidikan yang diberlakukan pada fakultas itu sangat membatasi gerak mahasiswa untuk cepat selesei. Ini yang saya artikan sebagai kekerasan akademik. Kekerasan yang berlindung pada sistem pendidikan dan membuat pembatasan dalam melanjutkan proses belajar. Bukan main dampak yang diberikan dari kekerasan akademik ini, yaitu:

1. Terlambat 1 tahun untuk selesei

2. Biaya kuliah yang semakin bertambah

3. Umur produktif kerja telah terpotong dibangku kuliah.

Beban Psikologis yang ditanggung oleh mereka yang kuliah di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UNHAS sangatlah berat. Mereka dapat kapan saja divonis terlambat selesei jika telah bertemu diruang kelas dengan dosen tipe tertentu yang telah dibahas dan mendapatkan nilai Error. Kombinasi penunjang untuk menahan kita lebih lama pada sebuah sistem yang menguras biaya pendidikan kita.

Inti permasalahannya sebenarnya berada pada kebijakan akademik tentang pemrograman mata kuliah yang tidak dilulusi ini. Untuk tidak menahan mahasiswa 1 tahun untuk memprogramkan mata kuliah yang tidak dilulusi, seharusnya akademik membuat kebijakan bahwa mata kuliah tersebut dapat diambil pada semester depan atau tidak menunggu 1 tahun lagi. Jika kebijakan ini dapat diterapkan beban psikologi dari dosen-dosen yang dibahas tadi tidak akan terlalu mempengaruhi dalam proses belajar nantinya.

Semoga para pengajar dan para birokrat fakultas dapat memahami kondisi mahasiswa pada umumnya, dan perlunya pengenalan iklim demokratis pendidikan pada mereka. Agar para petinggi fakultas mampu mengetahui tentang kebijakan-kebijakan yang mereka terapkan ternyata sangat memberatkan mahasiswa dan menjadi bentuk kekerasan akademik di kampus.

Sabtu, 18 Februari 2012

Sex, Lies & Cigarettes'- Vanguard Sneak Peek


Mungkin ini bukan lah film yang beredar dibioskop-bioskop dikota kalian berada. Sex, Lies and Cigarettes merupakan sebuah film dokumenter yang dibuat oleh koresponden Christof Putzel ketika pada tahun 2010 silam ia meliput Konferensi Dunia Untuk Tembakau. Film ini menjadi salah satu episode dari serial dokumenter Vanguard season 5 yang ditayangkan oleh Current TV.

Seluruh dunia tengah menyorot si bocah perokok, Aldi. Videonya di Youtube membuatnya cepat menjadi bahan pembicaraan. Dia satu-satunya perokok yang paling terkenal dari Indonesia. Akhirnya ditelusurilah apa penyebab anak umur 2 tahun ini bisa mengenal rokok. Oleh karena itulah mereka mulai menginvestigasi tentang rokok di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan Amerika, harga sebungkus rokok di Indonesia itu sangatlah murah. Di Amerika sebungkus Marlboro dihargai $12 , sedangkan disini dihargai $2 saja. Inilah salah satu alasan mengapa konsumen rokok meningkat tiap tahunnya. Amerika sengaja membuat pajak yang tinggi di rokok karena mereka telah sadar akan dampak krisis kesehatan kedepannya. Itulah juga yang menjadi alasan berpindahnya target pemasaran industri rokok ke Indonesia.

Penyebab lain mengapa perokok aktif begitu meningkat di Indonesia adalah adanya peran media yang mulai menyusupi brand-brand anak muda saat ini. Lihat saja iklan-iklan rokok saat ini, kebebasan, petualangan dan gaya anak muda lainnya menjadi icon dari rokok. Lihat saja di setiap konser musik di Indonesia, sebagian besar di hiasi oleh logo-logo perusahaan rokok ternama diposter, spanduk, sampai ditempat konsernya. Mereka lah yang mensponsori acara musik-musik itu. Lebih herannya lagi, sponsor terbesar dari pertandingan bola di Indonesia adalah perusahaan rokok terbesar diIndonesia. Perusahaan tersebut tahu bahwa penduduk Indonesia banyak yang suka sepak bola, sehingga dia menyentuh masyarakat dengan pertandingan sepak bola itu sendiri. Hebat proses pemasarannya.

Tidak di Jalan, di tivi, di radio, dan dimana saja indera kita berfungsi mungkin iklan rokok dapat ditemui yang juga dapat dilihat oleh anak-anak yang lain. “Target penjualan rokok memang kepada 17 tahun ke atas, namun itu adalah target resminya, sedangkan target tidak resminya adalah 14 tahun” ujar seorang yang pernah bekerja dibagian pemasaran disebuah perusahaan rokok ternama di Indonesia.

Mungkin saja jika pemerintah mengeluarkan iklan kesehatan tentang bahayanya merokok, para perokok yang sedang menghisap sebatang rokok akan segera berhenti, cepat atau lambat. Namun ternyata disini tidak. Pemerintah malah ketakutan akan kehilangan sumber pendapatan pajak terbesarnya dari rokok. Rela masyarakatnya sekarat karena asap diparu-parunya untuk mendapatkan pemasukan pajak. Berkedok melindungi pekerja, namun ternyata hasil dari pekerja lah yang diinginkan. Jika suatu saat rokok berkurang sudah pasti pekerja akan berkurang di perusahaan rokok, nah disinilah solusi sebenarnya yang seharusnya pemerintah cari. Tentang lapangan kerja pengganti untuk para pekerja nanti.

Untungnya saya sebagai penulis tidak menjadi salah satu korban yang terpengaruh akan kenikmatan tembakau yang terbungkus kertas itu. Sadar akan bahayanya menjadi tameng untuk diri sendiri tentunya. Film yang menarik dinonton sambil menghisap rokok, agar diakhir film nanti bisa mematikan rokok secara permanent.

Mungkin Jika ada yang ingin menonton filmnya bisa klik disini

Kamis, 26 Januari 2012

Pasar Tradisional yang Terabaikan


Kondisi diindonesia saat ini telah dilalui oleh Negara jepang beberapa tahun yang lalu. Kondisi dimana terjadi metamorphosis genetika oleh pasar modern besar yang memecah kecil-kecil perusahaan nya menjadi kecil. Misalnya salah satu pasar swalayan (pasar modern) ALFA yang sekarang membelah diri menjadi ALFA midi, ALFA ekspres dan alfa dengan jeni-jenis yang lain. Kondisi ini sedikit banyak meresahkan para pemilik kios, lapak, atau media jualan lainnya dipasar tradisional. Sekarang masyarakat lebih cenderung memilih didalam ruangan yang ber-AC dengan segala macam kenyamanan yang diberikan oleh karyawan-karyawan di pasar modern itu.

Jika salah satu keluarga kita tidak merupakan salah satu sosok yang bekerja didalam pasar tradisional tersebut mungkin kita akan sulit merasakan kesulitan mereka dalam bersaing dengan pasar modern belakangan ini. Ada yang berpandangan bahwa pemilik pasar modern mereka tidak salah, karena mereka pada dasarnya seorang pebisnis itu memiliki tujuan untuk mendapatkan profit dan pemerintah disini juga tidak salah karena jika dia mengijinkan tumbuhnya pasar modern dengan menjamur begini maka pemerintah akan mendapatkan pajak yang tinggi, jika pajak yang tinggi maka pemerintah akan mendapatkan penghargaan atas tingginya pajak yang diraih. Pandangan inilah yang tidak memperhatikan para penjual dipasar tradisional, mereka seakan sengaja dikucilkan atau tersisihkan oleh kerasnya hidup jaman sekarang. Mungkin yang berpandangan seperti ini lupa bahwa pertumbuhan ekonomi diindonesia itu ditopang dari usaha mikro menengah.

Benar, dimana peran serta pemerintah untuk pro kepada rakyat kecil para (para pemilik lapak dipasar tradisional), mereka seakan tidak seimbang dengan pasar modern untuk bersaing dimasyarakat. Disinilah ketimpangan sosial terlahir dan dilahirkan oleh pemerintah itu sendiri. Mereka lebih memilih untuk menghidupkan para pemilik pasar swalayan dengan melupakan para pemilik lapak. Melupakan? Yaa.. tentang masalah akses atau jalan yang menjadi kendala, masalah kebersihan, keamanan, kenyamanan juga maih jauh dari harapan, sehingga dengan begitu muncul kekhawatiran konsumen akan meninggalkan pasar tradisional. Banyak bentuk kepedulian pemerintah yang belum menyentuh kepasar tradisional. Jika, ada perhatian dan sentuhan tangan dari pemerintah tersebut, mungkin masyarakat akan lebih memilih untuk berkunjung pasar tradisional.

Namun, janganlah sampai menunggu uluran tangan pemerintah untuk berkunjung kepasar tradisional. Mari kita bersama berkunjung kepasar tradisional karena jika bukan kita yang bantu menghidupi mereka, siapa lagi?

Sabtu, 21 Januari 2012

Anak Lebak dan Jembatan Gantungnya



Menyaksikan tayangan pemberitaan sore ini tentang anak-anak SD diDesa Sangiang Tanjung, Lebak, Provinsi Banten yang menyeberangi jembatan yang seutas talinya telah putus dan kini hanya bertahan pada seutas tali yang menggantung membuat mata ini tersadar tentang kondisi negeri ini. Sungguh hebat mereka, mampu menghadapi medan yang tidak lazim dilalui oleh anak seumuran mereka didaerah lain, hanya untuk mencapai sekolahnya diujung jembatan sana, dan untuk mencapai tujuan mereka yang sungguh mulia: Menunaikan amanat pembukaan UUD 1945 agar kelak bisa menjadi bagian dari mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mereka bukanlah siswa yang dilatih untuk menghadapi bahaya atau dilatih untuk menjadi stuntman jika telah selesei dijenjang pendidikan ini.Mereka hanyalah siswa-siswi dari Sekolah Dasar saja, jenjang pendidikan yang mengajarkan hal-hal yang paling sederhana dinegeri ini. Mereka masih memakai baju putih dan celana merah, dulu kita pernah mengenakan seragam itu, namun kondisi kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Semoga mereka yang masih diSekolah Dasar itu sengaja menghadapi jembatan gantung itu dengan tidak berpikir bahwa “Inilah negeri ini, inilah pendidikan dasar”, semoga tidak. Jika iya, itu merupakan kesalahan mindset yang terbentuk oleh tidak tersentuhnya pemilik tangan-tangan harum dan bersih negeri ini didaerah mereka.Daerah yang dulunya sempat disinggahi mereka ketika mencari suara dukungan untuk berkantor diSenayan kepada bapak dan ibu mereka dikampung.

Bukan untuk sekedar menyalahkan mereka diSenayan sana, disaat mereka sibuk mensejahterakan diri mereka sendiri dengan proyek ber-milyar diawal tahun kemarin, sejahtera mereka didaerah pelosok sini sedang dalam kondisi memperihatinkan. Kita bicara masa depan, anak-anak inilah yang bakal menjadi penerus negeri ini, semoga mereka belajar dari kesalahan pemimpin negeri ini dan mencoba memperbaikinya untuk generasi yang selanjutnya lagi.

Jumat, 20 Januari 2012

RUU Perguruan Tinggi


Pendidikan siapa yang punya..
RUU PT untuk siapa..
Warga negara itu siapa..
Negara komplikasi..
*yel-yel yang terus disuarakan sepanjang hari ini..

Yaa..kembali hari ini turun kejalan untuk membahas sebuah peraturan yang tidak menguntungkan sebagian besar rakyat negeri ini. Lagi-lagi tentang komersialisasi pendidikan disebuah Rancangan Undang-Undang Perguruan Tinggi (RUU PT).

RUU PT ini jika diteliti sama dengan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Hanya istilah-istilahnya yang diganti namun makna dan isinya sama dengan UU BHP yaitu, perguruan tinggi berhak mengelola keuangannya sendiri atau disebut otonomi kampus dan negara lepas tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan negara.

Sehingga kebijakan-kebijakannya cenderung kapitalistik yang mengarah padaprivatisasi dan komersialisasi dalam dunia pendidikan. Di sisi prosesnya RUU PT juga tidak melewati tahap-tahap dalam peraturan perundang-undangan yang ada seperti diskusi publik. Hanya melalui mekanisme Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang dilakukan elit-elit kampus-kampus ternama,khusunya dari perguruan tinggi yang berbadan hukum milik negara (PT BHMN).

Dalam pasal 86 ayat 2 RUU PT berbunyi, bahwa mahasiswa menanggung 1/3 biaya pendidikan operasional pendidikan. Artinya,mahasiswa harus membayar biaya yang sangat mahal akibat dari otonomi kampus. Sehingga pendidikan menjadi diskriminatif karena hanya orang-orang kaya yang dapat mengenyam pendidikan tinggi, sedangkan rakyat miskin tidak dapat menikmati bangku pekuliahan, unik bukan sistem ini??

Selain itu juga pada pasal 91 ayat 3 yang menyebutkan bahwa Perguruan Tinggi dapat melaksanakan kerja sama internasional dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia atau membuka perguruan tinggi di negara lain. Maksudnya ialah perguruan tinggi asing dapat membuka cabang di Indonesia.

Oleh karena itu, dalam aksi tolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Perguruan Tinggi (RUU PT) menjadi undang-undang, Saya sebagai salah satu massa aksi siang tadi TETAP menyatakan sikap:

1.Menolak secara tegas pengesahan RUU PT menjadi UU PT karena akan melegalkan agenda neoliberalisme yaitu liberalisasi dunia pendidikan, yang dampaknya jelas pendidikan hanya akan menjadi barang dagangan dan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja.

2. Tolak Privatisasi dan Komersialisasi Pendidikan karena tidak sesuai dengan cita-cita bangsa yang tertera dalam UUD 1945 bahwa negara wajib mencerdaskan kehidupan bangsa.

Teriknya matahari dikota Makassar tadi pagi tidak menyurutkan semangat kami, “Bakar dan ledakkan”, begitulah kata seorang teman saya tentang aksi hari tadi. Bakar dan ledakkan semangat perlawanan kalian.

“Berjuta kali turun aksi, bagiku satu langkah pasti”