Tampilkan postingan dengan label Proyek Filsuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proyek Filsuf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2012

Solusi Kesalahan Penafsiran

Semiotika..

Sekali lagi saya membahas tentang tanda. Saya hidup dengan tanda. Saya selama ini adalah bagian tanda. Tanda itu bersifat tidak terbatas. Dunia ini adalah tanda. Saya dan dia, tanda.


Tanda itu bersifat multi penafsiran. Semua karena kitalah sebagai penafsir tanda tersebut. Terkadang makna yang kita tangkap atau kita tafsirkan berbeda dengan penafsiran orang lain, itu juga dapat dikatakan multi tafsir. Begitu banyak sudut pandang untuk bisa melihat tanda ini. Misalnya sebagai contoh adalah note ini, ada yang menafsirkan bahwa sebagai media untuk pengetahuanku yang sederhana tentang semiotika. Ada pula yang menafsirkan sebagai bentuk keisengan semata, dan ada pula yang menafsirkan sebagai bentuk kecintaanku terhadap filsafat bahasa. Tak heran jika muncul penafsiran seperti itu, karena pemaknaan setiap orang berbeda-beda.


Sebenarnya terlahirnya note ini sebagai bentuk singgungan terhadap kehidupan tentang petanda dan penanda. Dengan model penulisan seperti bercerita, semoga pengetahuan tentang semiotika dapat dengan mudah terserap, seperti saat membaca Dunia Sophie. Seperti inilah cara agar tak terjadinya pembiasan makna, ada kalimat penjelas tentang makna yang ingin disampaikan meskipun akan menghasilkan makna dan makna yang lainnya.


Namun berbeda dengan saya yang selalu menafsirkannya tanpa menemukan kalimat penjelas, dan akhirnya terjadi kesalahan penafsiran. Kemarin saya mengira saya dan ternyata bukan saya yang dimaksud selama ini. Seperti itulah pembiasan makna nya. Terlalu lama untuk terjebak dalam pembiasan kemarin.

Rabu, 18 Januari 2012

Semiotika dan Lagu


Sekali lagi kita membahas Semiotika. Karna hidup ini hanyalah kumpulan dari tanda-tanda itu sendiri. Mungkin masih ada yang belum mengenal apa itu semiotika? Mari kita sedikit merefresh bersama. Kemudian mencoba mengkaitkannya pada sebuah lagu.

Kata semiotika berasal dari bahasa yunani, semeion yang berarti “tanda” (Van Zoest, 1996:vii). Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika dan poetika (Kurniawan, 2001:49).

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, ditengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, tetapi juga mengkontitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes, 1988:179).

Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dalam penelitian sastra misalnya ini misalnya, kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik).

Berbicara tentang semiotika, maka terdapat dua pendekatan yang seringkali dijadikan sebagai rujukan para ahli, yakni semiotika komunikasi yang dipelopori oleh Charles Sander Peirce dan semiotika signifikasi yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure. Semiotika komunikasi menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan) (Hoed, 2001:140

Nah. Diantara kalian pasti sering mendengarkan radio kemudian merequest sebuah lagu yang akan disampaikan pada seseorang sebagai penerima tanda, “pesan ada pada lagu”. Secara tidak sadar kita telah menerapkan 6 hukum komunikasi menurut Hoed melalui sebuah lagu sebagai medianya. Atau mungkin orang tua kita mempunyai sebuah lagu nostalgia tentang perjalanan hubungan mereka berdua, mereka sudah merasa terwakili dengan sebuah lagu karena tanda perasan mereka ada didalamnya. Inilah Romantisme Semiotika, Bung..

Saya akan coba mengkaitkan dengan sebuah lagu Vidi Aldiano:Nuansa Bening Bahwa kata-kata adalah rantai penanda yang artinya terus berkembang.

Nuansa Bening

oh tiada yang hebat dan mempesona
ketika kau lewat di hadapanku
biasa saja

waktu perkenalan terjalin sudah
ada yang menarik pancaran diri
terus mengganggu

mendengar cerita sehari-hari
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

oh tiada kejutan pesona diri
pertama kujabat jemari tanganmu
biasa saja

masa perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu
tak mau pergi

dirimu nuansa-nuansa ilham
hamparan laut tiada bertepi

kini terasa sungguh
semakin engkau jauh
semakin terasa dekat

akan tumbuh kembangkan
kasih yang kau tanam
di dalam hatiku

menatap nuansa-nuansa bening
tulusnya doa bercita

Jika kita mencermati bait pertama (oh tiada yang hebat dan mempesona, ketika kau lewat di hadapanku, biasa saja), kita hanya akan menangkap ungkapan ungkapan seorang laki-laki mengenai seorang (gadis) yang terkesan biasa saja.

Pada bait kedua, kita akan menemui kalimat: waktu perkenalan terjalin sudah, ada yang menarik pancaran diri, terus mengganggu. Pada bait ini pemahaman akan berubah lagi. Sosok yang tampak biasa saja kemudian dikenal; pada perkenalan itu si laki-laki merasa ada sesuatu yang mengganggu. Namun, sampai di sini, belum jelas apa yang mengganggu.

Pada bait ketiga, ada kalimat: mendengar cerita sehari-hari, yang wajar tapi tetap mengasyikkan. Para pendengar lagu ini belum dijelaskan apa yang mengganggu, namun si laki-laki justru menceritakan keseharian yang terkesan wajar tapi mengasyikkan. Sampai di sini, makna dan arah belum tercapai secara utuh.

Pada bait keempat ada kalimat: oh tiada kejutan pesona diri, pertama kujabat jemari tanganmu, biasa saja; yang seolah flashback kembali pada momen perkenalan antara si laki-laki dan perempuan. Dilanjutkan dengan bait ke lima: masa perkenalan lewatlah sudah, ada yang menarik bayang-bayangmu, tak mau pergi; yang seolah mempertegas kembali bait kedua.

Pada bait keenam barulah ada sedikit penjelasan mengenai apa yang sebenarnya dirasakan oleh si laki-laki. Tergambar alam kalimat: dirimu nuansa-nuansa ilham, hamparan laut tiada bertepi. Dipertegas dengan bait ketujuh: kini terasa sungguh, semakin engkau jauh, semakin terasa dekat. Kendati tidak secara eksplisit menghadirkan kata ?cinta? tapi pendengar lagu ini dapat memperoleh gambaran mengenai perasaan seorang laki-laki yang tengah jatuh cinta.

Menarik ketika kita cermati bait ketujuh dan kedelapan, di mana ada kalimat: akan tumbuh kembangkan, kasih yang kau tanam di dalam hatiku, menatap nuansa-nuansa bening, tulusnya doa bercita. Lagu ini tidak memberikan ending yang jelas sehingga lebih merupakan penanda yang tak pernah berakhir (the never-ending signifier). Interpretasinya dapat terus berjalan, dan ada banyak kemungkinan yang dapat muncul.