Kamis, 25 Oktober 2012

Jika saya menjadi ketua KPK.


Korupsi menurut saya adalah sebuah prilaku penyelewengan uang negara yang dilakukan dengan penuh kesadaran seorang manusia. Korupsi merupakan kejahatan yang lebih jahat dari para teroris atau sipelaku mutilasi Ryan dari Jombang. Mereka semua membunuh dengan terang-terangan. Tidak seperti koruptor yang membunuh perlahan dengan beban kemiskinan yang diberikan kepada korban yang meluas.
Melihat dari sisi inilah, jika saya menjadi ketua KPK saya akan melakukan 3 hukum sosial pula kepada mereka. Hukum yang dapat membuat mereka merasakan dampak dari perbuatan mereka, dan setidaknya ini lebih mulia dari pada proses hukuman mati.
3 Hukum Sosial Koruptor:
  • Museum Koruptor

Museum koruptor berperan seperti penjara yang memamerkan koruptor di Indonesia yang berada dalam sel jeruji, namun tidak untuk melestarikan koruptornya. Museum ini menerima kunjungan dari para pelajar, mahasiswa dan masyarakat lainnya. Didalam Museum ada seorang yang bertugas seperti sipir penjara yang mengajak berkeliling pengunjung untuk menjelaskan kasus-kasus dari koruptor tersebut. Setelah masa hukuman disini selesai wajah mereka masih terpampang dalam museum ini. Hitung-hitung wisata pengetahuan untuk masyarakatlah.
  • Memberikan identitas Koruptor.

Identitas ini berfungsi sebagai tanda pengenal bahwa mereka pernah menyelewengkan uang negara. Identitas koruptor dilekatkan pada segala identitas di negara ini yang berlaku seumur hidup. misalnya, KTP, SIM, Pasport. Dalam pengurusan kartu kredit foto copy KTP sering digunakan untuk proses administrasi dan ketika menunjukkan si koruptor ini menunjukkan KTP nya dia akan dikenali bahwa pernah melakukan korupsi, begitu pula dengan identitas yang lain. Pemberian identitas ini dilakukan setelah hukuman di museum koruptor ini selesai. 
  • Menjadi pekerja sosial.

Menjadi pekerja sosial disini dilakukan sebagai pertanggung jawaban dari hasil pajak yang diambil dikas negara oleh koruptor. Pajak dibebankan pada rakyat, koruptor mengambil hasil pajak rakyat akibatnya mereka harus menjadi pelayan masyarakat. Misalnya, membantu PT Jasa Marga mengecat garis dijalanan. Menjadi pekerja sosial ini dilakukan setelah hukuman di museum koruptor ini selesai.
Koruptor merupakan cetakan dari orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yang moralnya telah rusak termakan sistem. Untuk membentengi moral dari penerus bangsa ini saya sebagai ketua KPK yang mempunyai strategi.

Strategi Moral Korup Force
·         Pengenalan anti Korupsi pada wajib belajar 9 tahun.
Pengenalan ini berfungsi untuk mengenalkan dan membiasakan kepada siswa bahwa korupsi itu merupakan hal yang tidak baik. Penanaman moral dan etika yang dikemas dalam kurikulum pelajaran diharapkan menghasilkan budaya baru, budaya dengan pembentengan moral secara dini. Pengenalan anti korupsi ini juga masih terkait dengan museum koruptor karena mereka juga dapat mengunjungi para koruptor untuk mengetahui bahwa di Indonesia memiliki makhluk seperti itu namun jangan untuk dibanggakan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa hal-hal yang dibiasakan sejak awal akan lebih bisa di terima nantinya. Mereka yang memiliki gelar koruptor itu merupakan jebolan dari perguruan tinggi dan memiliki gelar yang tidak murah. Merekalah orang-orang yang terlambat memilikil moral dan nurani, juga tidak memiliki budaya malu. Semoga hal-hal ini dapat mengenalkan rasa malu untuk perbuatan yang menurut nurani mereka salah, kecuali mereka memang tidak memiliki nurani sama sekali.
Terima kasih.

Minggu, 21 Oktober 2012

Yes Man


Film : Yes Man
Sutradara: Peyton Reed
Produksi : Warner Bros.
Tahun : 2008
Jenis: Komedi, Romantis
Penulis: Nicholas Stoller dan Jarrad Paul & Andrew Mogel,
Berdasarkan buku oleh Danny Wallace
Pemain: Jim Carrey, Zooey Deschanel, Bradley Cooper, Terrence Stamp

Siapa yang tidak mengenal Jim Carrey? Menurut saya dia lah maestro film komedi khas amerika dengan segala lekuk tubuh dan mimik mukanya. Kali ini dia bermain di Film Yes Man. Film yang sangat menghibur dan menyinggung orang-orang yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang monoton.

Jim Carrey di film ini berperan sebagai Carl Allen, seorang pegawai bank yang diletakkan dibagian pemberi pinjaman nasabah di Amerika. Sehari-harinya dia menjalankan pekerjaannya tanpa henti seperti robot dan selalu mengatakan “tidak” kepada siapapun sehingga dia terasingkan oleh teman-temannya.  Kejenuhan mulai menggrogoti kepalanya dan sekujur tubuhnya.  

Hingga suatu hari dia mengikuti sebuah seminar motivasi yang disarankan oleh temannya. Seminar motivasi “Yes Man, yes is the new no” yang didalangi oleh Terrence Bundley (Terrence Stamp) berkonsep tentang berkata “ya” dalam setiap kesempatan.  Jawaban “tidak” merupakan contoh bahwa kau menolak kehidupan oleh karena itu kau tak hidup, seperti itulah bentuk motivasi yang diberikan oleh Terrence si motivator. Sejak saat itulah  hidup Carl berubah, melenceng dari rutinitas, dan bertemu wanita baru, Allison (Zooey Deschanel).

Beberapa sentuhan manis dari film ini adalah hubungan Carl dan Allison itu sendiri. Ada sesuatu yang spesial antara Carrey dan Deschanel. Disamping, Deschanel tampil baik di sini dan tokoh Allison adalah tokoh yang menarik sebagai love interest bagi Carl, karena Allison adalah karakter yang easy going, seperti tidak kenal rasa takut, tomboy, mudah bergaul, bersikap masa bodoh, kepribadian yang bertolak belakang dengan Carl. Tapi justru karena perbedaan itulah mereka tampak serasi. Begitu cocok di layar sampai kita pun bisa merestui hubungan mereka sampai rela melupakan hal konyol dan berlebihan yang diumbar film ini. Liburan spontan ke Nebraska adalah bagian paling indah, berwarna dan menarik di sepanjang film

Beberapa pesan yang bisa diambil dari film ini tentunya tidak jauh dari kebiasaannya mengatakan “ya” pada setiap kesempatan. Mengatakan “ya” disini juga ternyata dapat memberikan warna baru dalam kehidupan dari Carl. Mulai dari pertemuan dengan Allison, belajar menjadi pilot, belajar bahasa jepang, belajar main gitar dan lain sebagainya. Semua yang dia lakukan ternyata memberikan dampak positif pada awalnya. Ditengah cerita hal-hal yang dia lakukan berkaitan dengan kehidupannya dan membantu orang-orang sekitarnya.

Kelemahan dari Carl itu sendiri, dia tidak dapat memilih kondisi saat untuk dia mengatakan “ya” dan “tidak”. Sehingga terkadang ada hal-hal yang dia tidak sukai namu tetap dia lakukan. Kata “ya” sendiri itu sebena_nya berfungsi untuk mengawali langkahmu selanjutnya katakan “ya” karena kau tahu dalam hatimu kau ingin mengatakan “ya”.

Mengatakan “ya” seakan memberikan peluang dunia mengenali kita dan kita mengenali dunia. Banyak manfaat yang bisa didapat dari mengenali dunia tentunya sebuah pelajaran untuk menghadapi lingkungan di sisi lainnya. Siapa yang tau kalo menolong seorang tuna wisma malah mempertemukan Carl dengan si Allison? Tidak ada yang tau. Maka, mari mengenal dunia dan mempelajari segala hal namun, tetap mengikuti kata hati untuk melanjutkannya.


Trailer Yes Man