Selasa, 03 April 2012

Dunia Tanpa Sekolah


Penulis: M. Izza Ahsin
Judul Buku: Dunia Tanpa Sekolah
Penerbit: Mizan
Tahun penerbitan: 2007
Jumlah halaman: 248


Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seorang teman yang telah meminjamkan buku barunya ini dan mengizinkan saya untuk mencicipinya terlebih dahulu. Terima kasih !!!

Dunia tanpa sekolah adalah sebuah buku yang edukatif. Bercerita tentang seorang anak bernama Izza yang tergolong pintar namun muak atas sekolah formal. Menurutnya sekolah formal hanyalah tempat yang memenjarakan kreatifitas dan imajinasi seorang anak. Kebebasan dalam proses belajar seorang anak tidak terexplor dengan baik yang dikarenakan sifat individu guru. Keheningan dalam ruang kelas, ketegangan oleh guru-guru yang mencitrakan killer (sok tegas) dan beberapa kebiasaan sekolahnya ini lah yang membuat dia beranggapan bahwa sekolah memenjarakan kreatifitas dan imajinasinya dalam belajar. 

Buku yang bercerita tentang seorang anak yang harus melanjutkan sekolah dibawah tekanan kedua orang tuanya. Orang tuanya beranggapa bahwa kesuksesan seseorang dapat dinilai dari seberapa tinggi seorang itu bersekolah, dan mindset seperti ini lah yang Izza tidak suka. Slogan wajib belajar 9 tahun-pun dibantahnya, Izza mau belajar seumur hidup, tidak sembilan tahun saja kemudian dilupakan.

Jangka papan tulis seharusnya tak digunakan untuk memukul anak-anak yang nakal, mencaci atau memaki seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang terdidik sekelas guru, dan berbagai cara lain yang berkedok untuk memberikan citra tegas atau jerah kepada murid yang kurang bisa diatur. Beberapa hal yang dia lihat inilah yang membuat dirinya tak ingin sekolah lagi dan lebih fokus pada hobi nya saja yaitu menulis. Banyak tulisan telah Izza lahirkan namun tak ada yang mengerti tentang bakatnya ini. Baginya “Siapapun bisa jadi penulis. Menulis tidak perlu bakat. Atau lebih tepatnya, bakat dapat diciptakan sesuai situasi dan kondisi"

Liburan adalah surga baginya karena bisa menghabiskan waktu liburnya ke Gramedia dengan keluarganya dari luar kota. Menurutnya Toko buku itu seperti restorant, dan dia ingin menghabiskan waktunya memakan satu demi satu buku disini. Sebuah pemikiran yang jarang atau bahkan tidak pernah saya dengarkan dari mulut anak muda zaman sekarang.

Buku ini menarik dibaca untuk mereka yang percaya pada sumber ilmu hanya pada sekolah saja. Semoga mereka mereka semua tersadar tentang konsep pendidikan yang ada selama ini kurang benar. Buku ini menarik dibaca juga untuk mereka calon penulis atau setidaknya beranggapa bahwa bakat itu sudah ditentukan sebelum kita terlahir. Izza membuktikan bahwa potensi bakat kita pada awalnya sama namun lingkunganlah yang membentuknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar