Kamis, 26 Januari 2012

Pasar Tradisional yang Terabaikan


Kondisi diindonesia saat ini telah dilalui oleh Negara jepang beberapa tahun yang lalu. Kondisi dimana terjadi metamorphosis genetika oleh pasar modern besar yang memecah kecil-kecil perusahaan nya menjadi kecil. Misalnya salah satu pasar swalayan (pasar modern) ALFA yang sekarang membelah diri menjadi ALFA midi, ALFA ekspres dan alfa dengan jeni-jenis yang lain. Kondisi ini sedikit banyak meresahkan para pemilik kios, lapak, atau media jualan lainnya dipasar tradisional. Sekarang masyarakat lebih cenderung memilih didalam ruangan yang ber-AC dengan segala macam kenyamanan yang diberikan oleh karyawan-karyawan di pasar modern itu.

Jika salah satu keluarga kita tidak merupakan salah satu sosok yang bekerja didalam pasar tradisional tersebut mungkin kita akan sulit merasakan kesulitan mereka dalam bersaing dengan pasar modern belakangan ini. Ada yang berpandangan bahwa pemilik pasar modern mereka tidak salah, karena mereka pada dasarnya seorang pebisnis itu memiliki tujuan untuk mendapatkan profit dan pemerintah disini juga tidak salah karena jika dia mengijinkan tumbuhnya pasar modern dengan menjamur begini maka pemerintah akan mendapatkan pajak yang tinggi, jika pajak yang tinggi maka pemerintah akan mendapatkan penghargaan atas tingginya pajak yang diraih. Pandangan inilah yang tidak memperhatikan para penjual dipasar tradisional, mereka seakan sengaja dikucilkan atau tersisihkan oleh kerasnya hidup jaman sekarang. Mungkin yang berpandangan seperti ini lupa bahwa pertumbuhan ekonomi diindonesia itu ditopang dari usaha mikro menengah.

Benar, dimana peran serta pemerintah untuk pro kepada rakyat kecil para (para pemilik lapak dipasar tradisional), mereka seakan tidak seimbang dengan pasar modern untuk bersaing dimasyarakat. Disinilah ketimpangan sosial terlahir dan dilahirkan oleh pemerintah itu sendiri. Mereka lebih memilih untuk menghidupkan para pemilik pasar swalayan dengan melupakan para pemilik lapak. Melupakan? Yaa.. tentang masalah akses atau jalan yang menjadi kendala, masalah kebersihan, keamanan, kenyamanan juga maih jauh dari harapan, sehingga dengan begitu muncul kekhawatiran konsumen akan meninggalkan pasar tradisional. Banyak bentuk kepedulian pemerintah yang belum menyentuh kepasar tradisional. Jika, ada perhatian dan sentuhan tangan dari pemerintah tersebut, mungkin masyarakat akan lebih memilih untuk berkunjung pasar tradisional.

Namun, janganlah sampai menunggu uluran tangan pemerintah untuk berkunjung kepasar tradisional. Mari kita bersama berkunjung kepasar tradisional karena jika bukan kita yang bantu menghidupi mereka, siapa lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar